22 Juni 2009

Maksiat Laris Manis

Pernahkah anda berbohong…., atau apakah anda pernah dibohongi.... ?, mungkin hampir sebagian besar jawabnya adalah iya, karena dusta atau bohong adalah jenis “Maksiat Laris Manis”, jenis maksiat yang paling banyak dan sering dilakukan oleh orang-orang. Padahal berbohong atau berdusta adalah salah satu akhlaq yang tercela, bahkan orang yang berdusta atau berbohong sudah termasuk ciri-ciri munafiq sebagaimana Hadist nabi yang berbunyi :

“ Tiga (hal) Barang siapa ketiganya ada padanya maka ia munafiq, sekalipun ia berpuasa, sholat, haji, umroh dan berkata “Sesungguhnya aku adalah seorang muslim”, : (1) Orang yang apabila ia berbicara ia dusta, (2) Apabila ia berjanji ia menyalahi dan (3) Apabila dipercaya ia berkhianat.“
[HR Rustah dan Al Imam dan Abu Syaikh dalam At-Taubikh dari Anas]

Dalam Hadist tersebut dijelaskan bahwa Amalan-amalan/ibadah-ibadah pokok disebutkan oleh nabi seperti : Sholat, haji, Umroh, Berpuasa, tetapi Nabi tetap menghukumi Munafiq. Meskipun pada hadist diatas adalah Nifaq Amali, bukan Nifaq I’tiqoti. [Munafiq adalah Pelaku atau orangnya sedangkan Nifaq adalah perbuatannya], Dalam istilah bebas Munafiq adalah orang yang perbuatannya tidak sama dengan hatinya, atau dengan kata lain : “Lain dimulut dengan dihati, apa yang dilahirkan beda dengan di hatinya”

Ada beberapa alasan sehingga bohong atau Dusta menjadi maksiat yang Laris Manis “ yaitu :
  1. Pelakunya terdiri dari berbagai usia
  2. Pelakunya terdiri dari berbagai tingkat pendidikan
  3. Pelakunya terdiri dari berbagai status ekonomi
  4. Dilakukan oleh pelaku di berbagai tempat
  5. Yang dibohongi tanpa pandang bulu

Dari beberapa point diatas maka sering kita jumpai, anak kecil hingga kakek atau nenek berbohong, dari orang yang tidak mengenal pendidikan hingga yang Sarjana, Doktor hingga Profesor juga berbohong, Dari orang yang miskin hingga yang kaya raya juga berbohong, bohong juga dilakukan dimana-mana mulai di rumah hingga di masjid, korbannya juga mulai dari orang dekat hingga orang jauh. Tidak jarang anak membohongi orang tuannya, santri membohongi guru atau kyainya, bawahan membohongi atasannya ataupun sebaliknya.

Begitu bahayanya bohong atau dusta, hingga dalam kesempatan lain Nabi bersabda : “Jauhilah Dusta, karena sesungguhnya Dusta/Bohong adalah menjauhi iman “

Dari Hadist Nabi tersebut jelaslah bahwa Dusta/bohong bisa menjauhkan iman, dan kalau imannya sudah menjauh bisa menjadi kufur. Yang dimaksud iman disini bisa iman haqiqi atau bisa mengurangi kesempurnaan dari iman itu. Bila dianalogikan iman adalah pohon yang berbuah dan berdaun, sedangkan dusta atau Bohong adalah benalu. Kalau ada Pohon meskipun itu berbuah dan berdaun, bila dicabangnya ditumbuhi benalu. Maka secara perlahan-lahan, sedikit demi sedikit, waktu demi waktu dan tahap demi tahap maka cabang pohon tersebut akan rontok daunnya, kering dan mati, begitu juga dengan iman bila sering kita berdusta.

Hal ini sesuai dengan apa yang didawuhkan oleh Hadratusy Syaikh Sholahuddin Abdul Djalil Mustaqim : “Memenuhi segala macam iman itu gak gampang, dan yang paling sulit itu mencukupi iman”. Begitu sulitnya untuk mencukupi iman, apakah kita malah melakukan dusta/bohong untuk menjauhkan iman ?

Tidak Semua bohong atau Dusta itu dilarang, Kehalalan dusta/bohong itu tidak dari bohongnya tetapi dari akibat atau efeknya menurut kaca mata agama, apabila bohong itu mendatangkan manfaat dan maslachah, dan manfaat itu hanya bisa tercapai dengan cara berbohong, maka Dusta/bohong bisa menjadi boleh [Darurat]. Sebagaimana Hadist Nabi yang berbunyi :
“Sesungguhnya Rasulullah saw tidak memperbolehkan dusta, kecuali dalam tiga hal : (1) Berdusta untuk mendamaikan dua orang yang sedang bersengketa, (2) Pada waktu Perang, dan (3) Dusta seorang suami kepada sang istri [demi kebaikan] .“

Semoga Kita Semua bisa terhindari dari dusta atau berkata bohong, dan semoga Allah swt selalu memberikan Taufiq dan Hidayah-Nya. Semoga bermanfa’at. Wallahu ‘alamu bish showab.


0 komentar:

Template by - Abdul Munir | Daya Earth Blogger Template