15 Juli 2009

Munajat Si Pendosa

Ya Allah, kini kami sadar mengapa kami mudah terjerumus dalam kesalahan. Itu karena kami percaya pada diri kami, pada amal kami, dan pada hati kami. Seharusnya kami sadar bahwa kami wajib bersandar. Ya, bersandar kepada Engkau, Ya Allah

Ya Allah, kini kami sadar mengapa kami selalu mengulang kemaksiatan. Itu kerana kami selalu berbangga dengan setiap ketaatan yang kami lakukan. Seharusnya kami sadar bahwa bukan kami sendiri yang membuat diri kami taat, melainkan Engkau (yang mengkehendaki), Ya Allah!

Ya Allah, kini kami sadar mengapa kami selalu melayang karena pujian, selalu terinjak oleh hinaan. Itu karena kami sebentar-sebentar melupakan-Mu. Seharusnya, kami sadar bahwa Engkau-lah Tujuan utama kami, bukan makhluk yang mudah menghina dan memuji.

Ya Allah, lesatkanlah ruh-Mu untuk menggusur nafsu di hati kami!
Ya Allah, tuntun kami ke samudera ketulusan yang tanpa batas, ke angkasa kerinduan tanpa akhir; demi-Mu, untuk-Mu!

Ya Allah, daku bersyukur kepada~Mu, atas masih hidupnya kalbuku.

Sumber : “Sadar untuk Bersandar, Gemala Hikmah Ibn 'Atha'illah“ karya Muhammad al-Ghazali, Penerbit Serambi, 2003

Selengkapnya.....

22 Juni 2009

Maksiat Laris Manis

Pernahkah anda berbohong…., atau apakah anda pernah dibohongi.... ?, mungkin hampir sebagian besar jawabnya adalah iya, karena dusta atau bohong adalah jenis “Maksiat Laris Manis”, jenis maksiat yang paling banyak dan sering dilakukan oleh orang-orang. Padahal berbohong atau berdusta adalah salah satu akhlaq yang tercela, bahkan orang yang berdusta atau berbohong sudah termasuk ciri-ciri munafiq sebagaimana Hadist nabi yang berbunyi :

“ Tiga (hal) Barang siapa ketiganya ada padanya maka ia munafiq, sekalipun ia berpuasa, sholat, haji, umroh dan berkata “Sesungguhnya aku adalah seorang muslim”, : (1) Orang yang apabila ia berbicara ia dusta, (2) Apabila ia berjanji ia menyalahi dan (3) Apabila dipercaya ia berkhianat.“
[HR Rustah dan Al Imam dan Abu Syaikh dalam At-Taubikh dari Anas]

Dalam Hadist tersebut dijelaskan bahwa Amalan-amalan/ibadah-ibadah pokok disebutkan oleh nabi seperti : Sholat, haji, Umroh, Berpuasa, tetapi Nabi tetap menghukumi Munafiq. Meskipun pada hadist diatas adalah Nifaq Amali, bukan Nifaq I’tiqoti. [Munafiq adalah Pelaku atau orangnya sedangkan Nifaq adalah perbuatannya], Dalam istilah bebas Munafiq adalah orang yang perbuatannya tidak sama dengan hatinya, atau dengan kata lain : “Lain dimulut dengan dihati, apa yang dilahirkan beda dengan di hatinya”

Ada beberapa alasan sehingga bohong atau Dusta menjadi maksiat yang Laris Manis “ yaitu :
  1. Pelakunya terdiri dari berbagai usia
  2. Pelakunya terdiri dari berbagai tingkat pendidikan
  3. Pelakunya terdiri dari berbagai status ekonomi
  4. Dilakukan oleh pelaku di berbagai tempat
  5. Yang dibohongi tanpa pandang bulu

Dari beberapa point diatas maka sering kita jumpai, anak kecil hingga kakek atau nenek berbohong, dari orang yang tidak mengenal pendidikan hingga yang Sarjana, Doktor hingga Profesor juga berbohong, Dari orang yang miskin hingga yang kaya raya juga berbohong, bohong juga dilakukan dimana-mana mulai di rumah hingga di masjid, korbannya juga mulai dari orang dekat hingga orang jauh. Tidak jarang anak membohongi orang tuannya, santri membohongi guru atau kyainya, bawahan membohongi atasannya ataupun sebaliknya.

Begitu bahayanya bohong atau dusta, hingga dalam kesempatan lain Nabi bersabda : “Jauhilah Dusta, karena sesungguhnya Dusta/Bohong adalah menjauhi iman “

Dari Hadist Nabi tersebut jelaslah bahwa Dusta/bohong bisa menjauhkan iman, dan kalau imannya sudah menjauh bisa menjadi kufur. Yang dimaksud iman disini bisa iman haqiqi atau bisa mengurangi kesempurnaan dari iman itu. Bila dianalogikan iman adalah pohon yang berbuah dan berdaun, sedangkan dusta atau Bohong adalah benalu. Kalau ada Pohon meskipun itu berbuah dan berdaun, bila dicabangnya ditumbuhi benalu. Maka secara perlahan-lahan, sedikit demi sedikit, waktu demi waktu dan tahap demi tahap maka cabang pohon tersebut akan rontok daunnya, kering dan mati, begitu juga dengan iman bila sering kita berdusta.

Hal ini sesuai dengan apa yang didawuhkan oleh Hadratusy Syaikh Sholahuddin Abdul Djalil Mustaqim : “Memenuhi segala macam iman itu gak gampang, dan yang paling sulit itu mencukupi iman”. Begitu sulitnya untuk mencukupi iman, apakah kita malah melakukan dusta/bohong untuk menjauhkan iman ?

Tidak Semua bohong atau Dusta itu dilarang, Kehalalan dusta/bohong itu tidak dari bohongnya tetapi dari akibat atau efeknya menurut kaca mata agama, apabila bohong itu mendatangkan manfaat dan maslachah, dan manfaat itu hanya bisa tercapai dengan cara berbohong, maka Dusta/bohong bisa menjadi boleh [Darurat]. Sebagaimana Hadist Nabi yang berbunyi :
“Sesungguhnya Rasulullah saw tidak memperbolehkan dusta, kecuali dalam tiga hal : (1) Berdusta untuk mendamaikan dua orang yang sedang bersengketa, (2) Pada waktu Perang, dan (3) Dusta seorang suami kepada sang istri [demi kebaikan] .“

Semoga Kita Semua bisa terhindari dari dusta atau berkata bohong, dan semoga Allah swt selalu memberikan Taufiq dan Hidayah-Nya. Semoga bermanfa’at. Wallahu ‘alamu bish showab.


Selengkapnya.....

04 Februari 2009

Syair Pujian Al Bushiri Kepada Sulthonul 'Auliya Syaikh Abul Hasan Asy Syadzili

Karena kelebihan dari Sulthonul Auliya’ Syaikh Abul Hasan Asy Syadzili yang begitu mencolok inilah para penulis menurunkan penanya diatas kertas untuk menyanjung dan memuji sambil mengatakan kelebihan dan kemampuannya

Diantara penulis atau syaikh yang menyebut nama beliau dengan puji-pujian untuknya masing-masing menurut kadar pandangan dan kesannya antara lain adalah Gubahan Al-Bushiri pengarang dari al Burdah, semoga Allah Ridha dan menganugerahkan berkah-Nya. Syair pujian itu adalah :

Akan halnya pribadi Asy Syadzili dan betapa
pula thariqatnya
Bagi pandangan yang memperoleh putunjuk
terlihat kelebihan dan kecemerlangannya
Pungutlah bekas-bekasnya walau tapak
setumit kaki
Kalau demikian sikapmu, itulah keterbukaan
dalam menerima
Beliau adalah Quthub zaman, juga Ghoust
serta Imamnya
Mata wujud ini adalah lesan rahasia Maha
Pencipta
Tingginya pangkat atas lelaki takkan dapat
dicapai
Oleh cita-cita yang berhasrat ketinggian dan
pangkat
Tidaklah anda melintasi makam kuburnya
Dan mencium keharuman tanah yang lembab
Andapun akan kagum “Apa kiranya yang akan
terjadi ?”
Setiap insan akan tunduk pada batu karang
Sambut dan ucapkan “assalamu’alaika !” wahai
samudera dermawan
Lautan ilmu yang melimpah bahkan mampu
menjadi petunjuk jalan


Selengkapnya.....

29 Januari 2009

Karomah Sulthonul Auliya' Syaikh Abul Hasan Asy Syadzili

Sulthonul Auliya' Syaikh Abul Hasan Asy Syadzili ra adalah seorang yang dianugerahi karomah yang sangat banyak, tidak ada yang bisa menghitung karomahnya kecuali Allah SWT. Dan sebagian dari karomah beliau antara lain adalah :

  1. Allah SWt menganugerahkan kepada beliau kunci seluruh Asma-Asma, sehingga seandainya seluruh manusia dan jin menjadi penulis beliau (untuk menulis ilmu-ilmu beliau) mereka akan lelah dan letih, sedangkan ilmu beliau belum habis.
  2. Beliau adalah sangat terpuji akhlaqnya, sifat mudah menolong dan kedermawanannya dari sejak usia anak-anak sampai ketika umur enam tahun telah mengenyangkan orang-orang yang kelaparan pada penduduk Negara Tunisia dengan uang yang berasal dari alam ghoib (uang pemberian Allah secara langsung kepada beliau.
  3. Beliau didatangi Nabiyulloh Khidir as untuk menetapkan “wilayatul adzimah” kepada beliau (menjadi seorang wali yang mempunyai kedudukan tinggi) ketika beliau baru berusia enam tahun.
  4. Beliau bisa mengetahui batin isi hati manusia
  5. Beliau pernah berbicara dengan malaikat dihadapan murid-muridnya
  6. Beliau menjaga murid-muridnya meskipun di tempat yang jauh
  7. Beliau mampu memperlihatkan/menampakkan ka’bah dari negara Mesir
  8. Beliau tidak pernah putus melihat/menjumpai Lailatul Qodar semenjak usia baligh hingga wafatnya beliau. Sehingga beliau berkata : Apabila Awal Puasa ramadhan jatuh pada hari Ahad maka Lailatul Qodarnya jatuh pada malam 29, Awal Puasa pada hari Senin Lailatul Qodarnya malam 21, Awal puasa pada hari Selasa Lailatul Qodarnya malam 27, Awal puasa pada hari Rabu Lailatul Qodarnya malam 19, awal puasa pada hari Kamis Lailatul Qodarnya malam 25, awal puasa pada hari jum’at maka Lailatul Qodarnya pada malam 17, sedangkan bila awal puasa pada hari Sabtu maka Lailatul Qodarnya jatuh pada malam 23.
  9. Barang siapa yang meninggal dan dikubur sama dengan hari meninggal dan dikuburkannya beliau, maka Allah akan mengampuni seluruh dosanya
  10. Doa Beliau Mustajabah (dikabulkan oleh Allah SWT)
  11. Beliau tidak pernah terhalang sekejap mata pandangannya dari Rasulullah saw selama 40 tahun (artinya beliau selalu berjumpa dengan Rasulullah selama 40 tahun)
  12. Beliau dibukakan (oleh Allah) bisa melihat lembaran buku murid-murid yang masuk kedalam thoriqohnya, padahal lebar bukunya tersebut berukuran sejauh mata memandang. Hal ini berlaku bagi orang yang langsung baiat kepada beliau dan juga bagi orang sesudah masa beliau sampai dengan akhir zaman. Dan seluruh murid-muridnya (pengikut thoriqohnya) diberi karunia bebas dari neraka. Syaikh Abul Hasan Asy Syadzili ra sungguh telah digembirakan diberi karunia, barang siapa yang melihat beliau dengan rasa cinta dan rasa hormat tidak akan mendapatkan celaka.
  13. Beliau menjadi sebab keselamatan murid-muridnya/pengikutnya (akan memberikan syafaat di akhirat)
  14. Beliau berdo’a kepada Allah SWT, agar menjadikan tiap-tiap wali Qutub sesudah beliau sampai akhir zaman diambil dari golongan thoriqohnya. Dan Allah telah mengabulkan Do’a beliau tersebut. Maka dari itu wali Qutub sesudah masa beliau sampai akhir zaman diambil dari golongan pengikut beliau.
  15. Syaikh Abul Abbas Al Mursi ra berkata : “Apabila Allah SWT menurunkan bala/bencana yang bersifat umum maka pengikut thoriqoh syadziliyah akan selamat dari bencana tersebut sebab karomah syaikh Abul Hasan Asy Syadzili ra".
  16. Syaikh Syamsudin Al-Hanafi ra mengatakan bahwa pengikut thoriqoh syadziliyah dikaruniai kemulyaan tiga macam yang tidak diberikan pada golongan thoriqoh yang lainnya :
    a. Pengikut thoriqoh Syadziliyah telah dipilih di lauhil mahfudz
    b. Pengikut thgoriqoh syadziliyah apabila jadzab/majdub akan cepat kembali seperti sedia kala.
    c. Seluruh Wali Qutub yang diangkat sesudah masa syaikh Abul Hasan Asy Syadzili ra akan diambil dari golongan ahli thoriqoh Sadziliyah.
  17. Apabila beliau mengasuh/mengajar murid-muridnya sebentar saja, sudah akan terbuka hijab.
  18. Rasulullah saw memberikan izin bagi orang yang berdo’a Kepada Allah SWT dengan bertawasul kepada Syaikh Abul Hasan Asy Syadzili.

Sumber : “Tanwirul Ma’ali manaqibi Ali bin Abil Hasan Asy Syadzili“ karya Syaikh Muhammad Nahrowi (mbah Dalhar) bin Abdurrahman, Watu Congol, Muntilan - Magelang. Dalam Bahasa Indonesia berjudul : Cahaya Kemuliaan, penerjemah : Agus Djamaluddin, SAg. Penerbit Ampel Mulia, 2007


Selengkapnya.....

20 Januari 2009

Mir'atul A'dzam (Mozaik Keagungan)

Semula aku hanya bisa menjerit
Ketika batas dunia ghaib tersingkap
Kemudian aku bertanya
“Apakah arti dan nama-nama semua yang ada?”
Namun yang ada hanya gambaran
gugahan rasa dan fikiran
lalu tersimpan dalam ingatan
dan menyatu dalam akal


Setelah aku berjalan di tepi samudera
kulihat diriku memantul digenangan laut,
tenang, walau ombak mengguncang-guncang
Namun betapa jelas
diriku tersimpan dalam cermin
Cermin yang terbingkai oleh Sifat-sifat
yang termozaik oleh Nama-nama Agung

Kini, kupandang cermin itu
pada samudera utama ini
sejumlah kata-kata, bunyi dan kalimat kebesaran
dengan gerak keparipurnaan
yang memahamkan diriku, siapa?

Bukan siapa-siapa

Sampai pada Yang Tak Terbayangkan
Sebuah Nama
Agung dalam DzatNya
Mengepak bagai Sayap-sayap Keperkasaan
Sekali ku sebut Nama itu
Seluruh gelombang menggelegak
jantung dalam hati yang berontak
di ombak yang resah

Jika Nama itu kedengar kembali
segala dendam memuncak
Rindu yang terpendam berabad-abad
dalam gelas anggur kerinduan
yang memabukkan
muncah ke bibir pantai


Sumber : Bagian dari Samudera Pertama dari Tujuh Samudera Agung Lirik Ummil Qur'an Karya : Syaikh Muhammad Luqman Hakiem, Risalah Gusti, 1996

Selengkapnya.....

26 Desember 2008

Rindu yang Membuncah

Gak Tahu kenapa, tiba-tiba supi’i merasa sangat kangen sekali kepada Syaikh Mursyidnya, Hadratusy Syaikh Sholahudin Abdul Djalil Mustaqim. Rindu itu begitu membuncah gak bisa ditahan lagi. Lebaran kurang beberapa hari supi’i pun nekat untuk berangkat langsung ke Tulungagung menuju pondok PETA untuk sekedar melihat Syaikh mursyid, syukur-syukur bisa bersalaman untuk mencium tangan beliau. Supi’i cuma bisa senyum-senyum sendiri membayangkan dirinya. Orang-orang kaya pada mengikuti paket umrah ramadhan ke tanah suci, tetapi supi’i cuma ke pondok PETA seminggu sebelum lebaran. Kalau dibilang suluk sih enggak, karena suluk di pondok PETA minimal adalah 10 hari.

Seminggu sudah supi’i di pondok tetapi hingga itu pula dia belum bertemu dengan Syaikh mursyidnya. Hingga pulang ke rumah supi’i pun belum bertemu dengan beliau. Meskipun tidak bertemu dengan syaikh mursyidnya Supi’i tidak begitu kecewa, baginya paling enggak sudah sampai di peta itu sudah mengobati kerinduan ruhaninya kepada sang Syaikh Mursyid, paling enggak dia sudah bisa melihat Musholla PETA tempat ia dibai’at untuk mengamalkan aurod Syadziliyah oleh sang syaikh mursyid, paling enggak ia sudah bertemu dengan Kang Wasi’, kang Jumal dan teman-teman yang lagi suluk di pondok, paling enggak ia sudah bisa berziarah kemakam Hadratusy Syaikh Mustaqim Husain dan Hadratusy Syaikh Abdul Djalil Mustaqim.

Beberapa hari lebaran hingga lebaran ketupat adalah moment yang ditunggu-tunggu murid Syadziliyah untuk silaturrahmi dengan syaikh mursyid, tetapi supi’i tidak bisa menggunakan kesempatan ini dikarenakan dia sudah ada janji dengan keluarganya. Hingga moment itupun berlalu.

Hingga kesempatan untuk bertemu dengan Syaikh mursyid itupun kembali muncul dengan adanya program silaturrahmi ke syaikh Mursyid dan beberapa kyai Syadziliyah PETA yang diadakan oleh Majelis Pengajian Cahaya Ilahi Surabaya yang dikoordinatori oleh Ibu Hj. Wiwik Malik. Rindu untuk bertemu dengan Syaikh mursyidpun kembali muncul.

Malam hari sebelum berangkat ke PETA adalah bertepatan dengan jadwal khususiyah. Setelah khususiyah itupun seperti biasa sang imam, kang wasi’ memberikan beberapa pesan bahwa besok bila di PETA ketemu atau tidak ketemu dengan syaikh mursyid itu sama saja keberkahannya, kita harus bisa menerima itu, yang penting hati kita tetap khusnudzon dan sikap kita tetap harus menjaga adab terhadap syaikh mursyid karena tentunya syaikh mursyid pastilah yang lebih tahu tentang hal ini. Pesan kang wasi’ tersebut membuat supi’i dan jamaah khususiyah yang lain semakin ridho apalagi pada kesempatan tersebut kang wasi’ juga bercerita dan memberikan beberapa contoh tentang orang-orang yang sowan ke syaikh Mursyid sebelum-sebelumnya.

Tepat sebelum azhan subuh bergema supi’i segera melaksanakan sholat tahujud ringan beberapa rokaat. Sambil menunggu adzan subuh supi’i teruskan kegiatan ibadah pada malam hari itu dengan tadarus alqur’an hingga beberapa ayat dari kitab suci itupun ia baca. Ia lihat waktu masih banyak, hingga kesempatan itupun ia gunakan untuk mandi, Ia sucikan seluruh tubuh dan hatinya, Ia guyur seluruh tubuhnya dengan niat untuk menemui syaikh mursyid sebagai adab dirinya terhadap syaikh mursyidnya dan bentuk penghormatan dan pengagungan kepada syaikh mursyidnya yang telah membimbing dirinya dan murid-murid syadziliyah yang lain untuk wushul kepada Allah azza wa jalla, tidak hanya dihantarkan ke pintu Allah tetapi langsung hingga ke hadapan Allah. Hal ini Supi’i lakukan karena Supi’i ber ittiba’ kepada apa yang dilakukan oleh Quthubul Muhaqqiqin Sulthonul Auliya’is sayyidinasy Syaikh Abul Hasan Ali Asy syadzily ketika menemui guru beliau Sayyidisy Syaikh ash Sholih al Quthub al Ghouts asy Syarif Abu Muhammad Abdus Salam bin Masyisy al Hasani, rodliyallahu ‘anhuma wa ‘aada ‘alainaa mim barokatihima wa anwaarihima wa asroorihima wa ‘uluumihima wa akhlaaqihima wa nafakhaatihima fidiini wad dun-ya wal aakhihiroh, aamiina yaa robbal ‘aalamiin. Sebelum menemui syaikh Abdus Salam, beliau berhenti dan mandi di pancuran mata air sebelum puncak gunung barbatoh. Malam itu bagi supi’i mandinya menjadi terasa lain dibandingkan dengan mandi-mandi sebelumnya.

Adzan Subuh berkumandang, setelah shalat fajar dan sholat subuh serta wiridan, supi’i pun secara khusus bertawasul dengan membaca fatihah sebanyak masing-masing 41 kali yang ditujukan kepada syaikh mursyidnya, syaikh abdul Djalil, syaikh mustaqiem, dan kyai-kyai yang akan dikunjunginya. Setelah itu supi’i beristighfar sebanyak-banyaknya. Tepat pukul 05.00 supi’i berangkat menuju rumah ibu Hj. Wiwik Malik untuk seterusnya menuju pondok PETA. Dalam perjalanan menuju ke Pondok PETA itu tak henti-hentinya supi’i membaca sholawat syadziliyah, istighfar, sholawat lagi, istighfar lagi begitu terus bergantian, tetapi di dalam hatinya tetap bunyi Allah...Allah...Allah yang selalu ia zikirkan seirama dengan bunyi detak jantungnya.

Singkat cerita, alhamdulillah ketika sesampainya di Pondok PETA, jamaah langsung berziarah kemakam hadratusy syaikh Abdul Djalil dan hadratusy Syaikh Mustaqiem. Baru setelah itu kang Jumal berbicara kepada jamaah untuk di aturi pinarak oleh Syaikh Mursyid di ruang tamu beliau. Alhamdulillah ucap syukur supi’i mendengar keterangan yang disampaikan oleh kang Jumal tersebut. Dan para jamaahpun langsung menuju ruang tamu untuk menghadap syaikh mursyid.

Ketika semua telah siap, baru kemudian syaikh mursyid keluar untuk menemui jamaah MCIS (majelis Cahaya Ilahi Surabaya). Hati Supi’i berdegup lebih kencang, anehnya dzikir hati supi’i Allah...Allah....Allah juga menjadi lebih cepat dari yang tadi. Supi’ipun tidak berani lama-lama menatap Wajah Syaikh Mursyid, ia hanya menunduk dan sesekali melihat wajah teman-temannya. Tampak juga wajah Supi’ah yang meskipun tidak sampai termehek-mehek tetapi terlihat jelas di raut wajahnya sedikit mewek. Supi’i yakin bahwa supi’ah juga menahan haru rindu kepada syaikh mursyid. Raut wajah rindu yang bahagia setelah bertemu dengan syaikh mursyid. Yah haru rindu untuk dibimbing oleh syaikh mursyid menuju Allah SWT.

Sekitar satu jam lamanya syaikh mursyid memberikan wejangan kepada kami para jamaah. Selama itu pula supi’i tinggalkan semua ilmu dan amalnya, ia tidak peduli paham apa enggak yang dikatakan oleh syaikh mursyid, yang cuma ia lakukan adalah berzikir terus Allah...Allah...Allah dalam hatinya. Ya zikir itu seperti bergerak dan meluncur sendiri dalam hatinya ketika berdekatan dengan syaikh mursyid. Yang supi’i rasakan selanjutnya adalah tubuhnya terasa lebih hangat. Itulah ulama sesungguhnya, yang hatinya selalu memancarkan cahaya Ilahiyah untuk diteruskan kepada para murid-muridnya. Ulama yang bisa menyentuh hati murid-muridnya untuk selalu ingat kepada Allah. Kata-kata yang beliau ucapkan pun penuh dengan mutiara hikmah yang dalam sebagaimana air lautan yang yang tak akan pernah habis bila digunakan sebagai tinta untuk menulis hikmah dari beliau.

Meskipun pada dawuh atau wejangan beliau berkisar tentang tasawuf (secara detail apa yang didawuhkan beliau bisa anda baca disini) yaitu tentang thoreqot, masalah, bencana, istiqomah, ridho, tawakal, sabar dan iman yang beliau ucapkan dengan membuat kiasan dan perumpamaan-perumpamaan, tetapi apa yang beliau dawuhkan mampu memberikan solusi bagi para jamaah, padahal tentunya masalah atau problem para jamaah masing-masing adalah berbeda-beda. Termasuk juga ketika supi’i di dalam hati berniat bertanya tentang sesuatu yang menyangkut dirinya. Syaikh mursyidpun tahu dan langsung menjawabnya. Supi’i cuma bisa nyengir dan senyum-senyum sendiri mendengar jawaban syaikh mursyid, tentunya senyum bahagia karena sudah menemukan solusinya. Supi’i haqqul yakin bahwa para jamaah yang lain yang punya ganjelan di hatinya juga mengalami hal yang sama, persoalan dan masalah masing-masing jamaah mampu dijawab oleh syaikh mursyid meskipun para jamaah belum bertanya kepada syaikh mursyid.

Segelas sirup dan makanan ringan disuguhkan kepada kami untuk menyegarkan rasa dahaga dan lapar dari fisik kami, tetapi dawuh, nasehat dan pesan beliau mampu meyegarkan kembali ruhani kami untuk selalu semangat menuju ke Ilahi Robbi. Termasuk juga supi’i rindunya yang membuncah terasa hangus hilang terbakar oleh cahaya Sang Poros Agung Syaikh Mursyid, Hadratusy syaikh Sholahuddin Abdul Djalil Mustaqiem.


Selengkapnya.....

06 Desember 2008

All About Salam

Kata salaam dalam Bahasa Arab mempunyai arti keselamatan, kesejahteraan atau kedamaian. Kata salampun juga merupakan salah astu asma Allah yang terdapat dalam 99 asma’ul Husna. Disamping itu juga salam (assalamu’alikum warohmatulloh) juga merupakan salah satu rukun dalam sholat. Sebegitu pentingnya salam hingga Rasululloh SAW pun menganjurkan untuk menyebarluaskan salam bila bertemu dengan sesama muslim dan mewajibkan menjawab salam bila menerima ucapan salam.

Berikut ini hal-hal yang sering kita lupakan entah itu disengaja atau karena itu memang sudah menjadi budaya kita berkaitan tentang salam :

Sering kali kita bila pergi kerumah seseorang apalagi rumah itu seorang kyai, ulama atau orang terpandang lainnya selalu kita mengucapkan salam, tetapi sering kali bila kita pulang kerumah, kita selalu lupa untuk mengucapkan salam. Padahal salam itu adalah doa yaitu doa keselamatan, kerahmatan dan keberkahan. Seharusnya kalau kita pikir tentunya keluarga kita yang lebih utama untuk kita do’akan. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW : “Jika engkau hendak masuk ke rumahmu, hendaklah engkau salam, niscaya berkah akan turun kepadamu dan keluargamu.” (HR Turmudzi)

Sering kali bila kita pulang kerumah dan rumah dalam keadaan kosong, kita lupa mengucapkan salam yang telah di ajarkan oleh Rasululloh yaitu : Assalamu’alainaa ‘ibaadillahish shaalihin. Sebagaimana Sabda Nabi Muhammad SAW : “Dan jika tidak ada seorangpun di dalamnya, maka ucapkan, Assalamu’alainaa ‘ibaadillahish shaalihin.” (HR Muslim)

Sering kali bila kita bertamu ke rumah orang lain, selalu kita mengucapkan salam meskipun pintu rumahnya masih tertutup dan belum terlihat orangnya. Padahal seharusnya adab kita adalah kulonuwun/permisi, mengetuk pintu, atau memencet bel dulu, baru setelah Tuan rumah keluar di hadapan kita, maka kita mengucapkan salam kepadanya. sebagaimana firman Allah SWT : "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya. Yang demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu (selalu) ingat" (An Nuur [24]: 27). Dan Sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW : “Jika seseorang di antara kalian bertemu dengan saudaranya, hendaklah dia memberinya salam, dan jika terpisah antara keduanya oleh pohon, tembok ataupun batu besar lalu bertemu kembali, hendaklah kalian mengucapkan salam lagi kepadanya.” (HR Abu Dawud).

Sering kali bila kita mendapat salam dari orang lain kita cuma menjawab salam tersebut dengan : “Wa ’alaikum salam”, padahal jawaban tersebut kurang sempurna dan setara, harusnya jawaban kita adalah : “Wa ‘alaikumus salaam”. Perhatikan perbedaan keduanya. Pada kata yang pertama (salaam) berarti keselamatan, sedangkan pada kata kedua (as salaam) mengandung makna seluruh keselamatan. Tentu saja tidak setara antara keselamatan dan seluruh keselamatan. Jawaban "Wa'alaikum salaam ..." mempunyai makna keselamatan atas kalian; sedangkan jawaban "wa ‘alaikumus salaam ..." mempunyai makna seluruh keselamatan atas kalian. Tentu saja jawaban "Wa'alaikum salaam (keselamatan atas kalian)..." tidak setara apabila pemberi salam megucapkan: "Assalaamu ‘alaikum (Seluruh keselamatan atas kalian) ...!. syukur-syukur kalau kita menjawab lebih lengkap yaitu : "Wa'alaikumussalaam warahmatullaahi wabarakaatuh" Sebagaimana firman Allah SWT : "Apabila kamu dihormati dengan suatu penghormatan, maka balaslah yang lebih baik atau balaslah dengan yang serupa. Sesungguhnya Allah memperhitungkan segala sesuatu" (An Nisaa' [4]: 86).

Sering kali kita terlalu “kengệthệken (jawa)” bila kita menerima telepon kita selalu mendahului untuk mengucapkan salam, meskipun itu tidak dilarang atau malah dianjurkan asalkan kita mengatahui pasti dan yakin bahwa itu benar-benar seorang muslim, tetapi alangkah baiknya bila kita menunggu saja, apalagi kalau telepon itu adalah model telepon rumah yang tidak ada ID callernya. Hal ini dikhawatirkan bahwa yang menelepon tersebut adalah non muslim. Sebagaimana Sabda Nabi Muhammad SAW : “Janganlah mendahului Yahudi dan Nasrani dengan ucapan salam, jika engkau menemui salah seorang daripada mereka di jalan, desaklah hingga mereka menepi dari jalan”. (HR. Muslim) dan bersabda pula Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam : “Jika ahli kitab memberi salam kepadamu maka jawablah dengan wa’alaikum” (mutafaq alaihi).

Sering kali bila kita mengirim sms, kata salam selalu kita singkat dengan kata “ass” padahal kata ass dalam bahasa inggris berarti : Pantat. Sungguh sesuatu yang sangat tidak etis dan tidak mempunyai adab apabila kata salam yang begitu agung, yang merupakan nama Allah mempunyai arti lain yang lebih hina. Naudzu billahi mindzalik.

Sering kali kita mendengar entah itu presenter ditelevisi, entah itu seorang MC, dalam mengawali acara selalu salah dalam mengucap salam, seperti : Assalamu’alaikum warohmatullohi wabarokatuuuuh. Dengan kata ka yang pendek dan kata tuh yang panjang, padahal seharusnya adalah kata ka adalah panjang sepanjang Mad Thobi’i, dan kata tuh adalah pendek karena bukan mad.

Sering kali kita mendengar atau mungkin kita sendiri yang melakukan pada waktu akhir sholat salam kita yang kita ucapkan adalah : Salamu’alaikum warohmatulloh. Padahal seharusnya ada huruf alif Lam, yang disebut bacaan idhom syamsyiah karena bertemu dengan sin sehingga menjadi : Assalamu’alaikum warohmatulloh. Padahal kita tahu bahwa salam dalam sholat adalah merupakan rukun yang harus dilakukan, bila tidak maka tidak sah sholatnya.

“Allahumma antas salaam, wa minkas salaam, wa ilaika ya’uudus salaam, fachaiyina robbanaa bis salaam, wa adkhilnal jannata daaros salaam, tabaarokta robbanaa wata’aalaita yaa dzal Jalaali wal ikroom”
Selengkapnya.....

Template by - Abdul Munir | Daya Earth Blogger Template