16 September 2008

Cahaya Kekasih Allah

Sinar matahari mulai tampak remang, udara di pinggir stasiun kereta api tulungagung tidak begitu panas, malah tampak sejuk dan segar. Maklum seharian tadi supi’i bersama temannya ba’i begitu kepanasan digerbong kereta api ekonomi jurusan surabaya tulungagung. Ini kali kedua supi’i pergi ke tulungagung, tepatnya ke pondok peta (pesulukan thoriqot agung) yang terletak di tengah kota tulungagung. Pertama kali ia kesana adalah ketika mengikuti baiat thoriqot syadziliyah, sedangkan yang kali ini untuk menghadiri peringatan Haul wafatnya Hadratusy Syaikh Mustaqiem bin Husain dan Hadratusy Syaikh Abdul Jalil bin Mustaqiem.

Sore itu sepanjang perjalanan dari stasiun menuju pondok terlihat jalanan sudah mulai ramai, akses-akses jalan menuju pondok pun sudah ditutup, terlihat banyak sekali rombongan jamaah syadziliyin dan syadziliyat dari luar daerah yang menggunakan carteran bus-bus atau kendaran dengan kapasitas besar maupun mobil-mobil pribadi sudah berdatangan dan parkir ditempat-tempat yang sudah disediakan. Alun-alun kota tulungagung pun ramai sekali dengan orang-orang yang berjualan memanfaatkan momentum peringatan haul ini. Sepanjang jalan area pondokpun terlihat terop-terop, umbul-umbul, sound system maupun peralatan elektronik lainnya sudah terpasang sehingga menambah semaraknya suasana. Supi’i dan Ba’i yang baru pertama kali ini menghadiri haul begitu takjub dan kagum, karena menurut cerita setiap peringatan haul ini tak kurang hadir adalah sekitar 50.000 orang dari seluruh indonesia.

Tepat di jalan Wahid Hasyim tepatnya didepan pondok Peta Supi’i dan Ba’i diam sejenak memperhatikan pondok. “Tidak ada perubahan, tetap kokoh dan menjulang tinggi, Ya menjulang tinggi menuju Arasy Ilahi Robby yang menuntun orang-orang untuk berjalan menuju Allah SWT. Hanya tampak hiasan-hiasan dan podium sederhana yang digunakan untuk prosesi acara.

Singkat cerita acarapun mulai dilaksanakan. Supi’i dan Ba’i pun mengambil tempat di lantai bawah didepan makam. Entah mengapa Supi’i dan Ba’i kok bertempat di lantai bawah padahal tempat itu dikhususkan bagi para kyai dan para alim ulama, ketua kelompok maupun imam khususiah. Pada saat itu Supi’i dan Ba’i cuma mencari tempat kosong, anehnyapun petugas tidak melarang supi’i dan ba’i, mungkin wajah supi’i dan ba’i yang memakai baju “koko” putih mirip kyai kali (He...he...he.., Amin Ya robbal alamiin). Tampak kyai-kyai yang selama ini dikenal oleh supi’i dan ba’i terlihat di depan makam tersebut. Kyai Jamaluddin Ahmad Jombang, Kyai Luqman Hakim Jakarta, Kyai Wahid Zuhdi Purwodadi, Kyai Qosim sepanjang, Kyai Ghofur Blitar, dan lain-lain. Pra acara pertama yaitu pembacaan maulidur Rasul diiringi dengan musik hadra menambah suasana hikmat malam itu. Setelah itu tampil protokol membacakan acara malam itu. Pembukaan, pembacaan ayat suci Alqur’an, sambutan-sambutan, Tahlil, dan pembacaan manaqib syaikh Abil Hasan Asy Syadzili, Syaikh Mustaqiem, Syaikh Abdul Djalil, mauidhotul hasanah serta ditutup dengan do’a.

Pada acara tahlil inilah yang membuat supi’i tidak bisa melupakan sepanjang hidupnya. Khususnya pada saat dzikir kalimat thoyibah yang dipimpin oleh kyai ghofur. Sepanjang tahlil itu nggak tahu mengapa supi’i merasa untuk mati-matian menahan air matanya yang tiba-tiba serasa berkumpul semua di rongga kepalanya minta tumpah. Dag, dig, dug, dag, dig, dug, denyut jantung berdebar kencang, nafas saling mengejar, otot-otot syaraf mengejang membuat kaku seluruh badan. Diawal kalimat thoyibah yang diawali dengan bacaan secara pelan-pelan sebanyak tiga kali “Laa Ilaa ha Ilallaah..........., Laa Ilaa ha Ilallaah..........., Laa Ilaa ha Ilallaah..........., tak kuasa lagi supi’i menahan air matanya untuk tumpah yang sejak awal tahlil tadi ditahannya, nafasnya semakin kejar mengejar, sampai-sampai tak sanggup supi’i untuk sekedar berkata Laa Ila ha Ilallaah..........., bersama para jamaah lainnya yang semakin lama semakin cepat seperti irama suara sepatu tentara yang sedang berjalan. Hanya “Allah...., Alllah...., Allah....., Allah....., Allah......,Allah..... bunyi yang berdetak nyata didalam dirinya.

Tiba-tiba pandangannya menjadi lebih gelap, entahlah seolah-olah supi’i merasa mau pingsan, tetapi sesaat sebelum kesadarannya benar-benar lenyap. Tiba-tiba pandangannya seketika menjadi terang-benderang, terang sekali tetapi tidak silau, halus dan lembut, kemudian supi’i melihat cahaya indah sekali berbentuk spiral melingkar bertuliskan lafadz Allah muncul dari atas makam didalam pondok, terus naik ke atas, naik dan naik bergerak pelan seakan mengikuti irama tahlil yang merdu yang dilantunkan para jamaah syadziliyin dan syadziliyat. Seluruh bunyi dzikir yang didengar malam itu ia rasakan bagaikan konser ruhani, alunan bacaan tahlil, sholawat, takbir, tasbih, tahmid, istighfar bagaikan nada-nada merdu yang mengalun indah dalam orkestra jiwanya, berbunyi bersama dalam desah-desah nafas cinta kepada Tuhannya.

Tiba-tiba pandangannya hilang lagi, kembali normal lagi. Supi’i sadar air matanya menetes entah sudah berapa banyak, terlihat wajahnya sudah basah dengan air matanya, tetes demi tetes jatuh sampai terlihat pada baju kokonya juga basah bercampur dengan keringat tubuhnya. Suara Alllah...., Allah....., Allah....., Allah......, Allah....., supi’i rasakan masih tetap berbunyi dalam dirinya.

Tiba-tiba pandangannya berubah lagi, seiring suara tahlil Laa Ilaa ha Ilallaah..........Tak beberapa lama kemudian cahaya-cahaya itu ia lihat bagaikan kilatan-kilatan yang bergerak cepat, lap...lap...lap...lap....lap...lap...lap, seakan-akan cahaya itu terlihat seperti ketika mata supi’i berkedip-kedip semakin lama semakin cepat, cepat dan berbarengan dengan itu supi’i merasakan tubuhnya semakin lama semakin kejang dan kaku, sejurus kemudian tubuh supi’i berangsur-angsur lemah, lemas dan keadaanpun normal kembali seiring dengan berakhirnya tahlil yang dipimpin kyai ghofur.

Supi’i bingung terhadap apa yang di alami barusan tadi, karena bagi dia itu pengalaman pertama dan supi’i nggak tahu apa yang terjadi. Ia melihat orang-orang disekelilingnya, tampak normal, bahkan supi’i melirik ke temannya ba’i, juga kelihatan normal dan biasa-biasa saja seperti tidak terjadi apa-apa, supi’i hanya melihat di pelupuk mata ba’i juga terlihat basah. Apakah mungkin si ba’i juga mengalami hal yang sama dengannya, Wallahu ‘alam. Bagi Supi’i ia cuma bisa berkhusnudzon saja, siapa tahu mungkin itu cara Allah agar Supi’i menjadi lebih haqqul yaqin terhadap jalan yang ditempuhnya dengan bimbingan Hadratusy Syaikh Sholahuddin Abdul Jalil Mustaqiem. Supi’i beranggapan begitulah para kekasih Allah, kehadirannya memancarkan sisi ruhani yang luar biasa, dengan dekat kepada kekasih Allah kita akan teringat kepada Allah sehingga dengan sendirinya kita akan berdzikir kepada Allah.

Terima kasih Ya Allah...,
Malam ini Engkau takdirkan aku untuk berkumpul bersama para kyai,
Berkumpul dengan orang-orang yang selalu berdzikir dan selalu mengingat–Mu
serta berkumpul dengan kekasih-kekasih-Mu.

Ya Allah......
Tiada henti ku berlari dan berlari tuk mengejar Ridlo-Mu
Berilah aku kekuatan dan kemudahan agar aku bisa istiqomah untuk selalu mengingat-Mu, selalu ridlo atas ketetapan-Mu, selalu bersyukur atas nikmat-Mu. Serta selalu bersabar atas cobaan-Mu
Ya Allah.......
Berilah ampunan kepada kami, syadziliyin dan syadziliyat, muslimin dan muslimat, mukminin dan mukminat, baik yang masih hidup atau yang telah meninggal.
Ya Allah.....
Berilah kami terangnya hati
Tetapnya iman dan islam
Selamatkan kami dunia akhirat
Dan jadikanlah apa yang Engkau berikan kepada kami manfaat dunia akhirat.
Amin.....Amin.....Ya Robbal ‘alamiinn

Selengkapnya.....

Doa Sulthonul Auliya' Syaikh Abul Hasan Asy Syadzili 2

Imam Asy Syadzili ra pernah mengatakan : “Pada suatu malam aku merasa gelisah dan mencekam, lalu tiba-tiba aku memperoleh ilham agar aku mengucapkan do’a :

Dengan menyebut Nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

Wahai Allah, Engkau telah menganugerahi aku dengan iman, cinta, taat dan tauhid, (tapi) kemudian aku diliputi kelengahan, syahwat dan maksiat, dan aku telah dicampakkan oleh hawa nafsu itu ke dalam samudera kegelapan, padahal itu suatu tempat yang amat gelap gulita, sementara hamba-Mu ini berada dalam kesusahan, kesedihan dan kegelisahan, dan telah pula ditelan oleh Nunul Hawa (ikan Nun). Dan ia menyeru kepada-Mu dengan seruan Mahbubah (kekasih), Ma’shum (yang dijauhkan dari kesalahan) kepada nabi-Mu dan hamba-Mu : Yunus bin Matta yang tiada henti-hentinya mengucap : Tiada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau. Sesungguhnya aku dari golongan orang-orang yang zhalim. Maka kabulkanlah do’aku sebagaimana Engkau telah mengabulkan doa Yunus. Dan biarlah aku berada diatas bumi tandus gersang dengan penuh cinta, tempat tafrid wal wahdah (kesendirian dan kesatuan) Tumbuhkanlah bagiku pepohonan Luthfi (lemah lembut) dan al-Hannan (Allah yang Maha Kasih).

Sesungguhnya Engkaulah Allah Maha Raja, Maha memberi Anugerah, dan tiada bagi diriku melainkan Engkau sendiri yang tiada memiliki sekutu. Tiada Engkau selisih janji bagi orang-orang yang beriman kepada-Mu, sebagaimana telah Engkau katakan dalam firman-Mu : “Kemudian Kami mengabulkan doanya, dan kami selamatkan ia dari kesusahan. Demikianlah kami selamatkan orang-orang yang beriman.”

Wahai Alllah, Wahai yang Maha Indah, Wahai yang Maha Besar Lemah Lembut-Nya, aku memohon kelemah-lembutan-Mu sebagaimana kelemah-lembutan-Mu kepada Wali-Mu. Dan tolonglah aku agar di dalam menghadapi musuh-musuh-Mu mereka diliputi perasaan gentar.

Selengkapnya.....

Hadratusy Syaikh Abdul Djalil Mustaqim

Syaikh Djalil sangat sarat dengan kesejatian seorang Sufi. Beliau selalu akrab menyambut tamu-tamunya, tutur katanya halus dan santun, disertai senyum yang menyejukkan. Hampir setiap hari beliau menerima tamu, tak pernah tampak lelah pada raut mukanya. Setiap kali beliau memasuki ruangan yang terletak tak jauh dari rumahnya, puluhan tamu serentak berdiri menghormati sembari berebut ingin menyalaminya.

"Jadi Sufi itu harus banyak senyum. Dan jangan merasa terbebani persoalan-persoalan berat." Katanya.

Beliau lahir di Tulungagung 20 juni 1943. Putra dari Syaikh Mustaqim Husain yang juga seorang mursyid dan seorang pejuang kemerdekaan. Sejak masa kanak-kanak, beliau belajar agama pada Ayahandanya sendiri. Begitu lulus Sekolah Rakyat, beliau merobek ijazahnya, dan membuangnya ke sungai. Ayahnya kaget, lalu menegurnya. "Bah, ijazah kan benda mati yang tidak bakal dibawa ke liang kubur." Kata Syaikh Djalil kecil saat itu.

Sejak itu, beliau bertekad menuntut ilmu agama dari pesantren ke pesantren. Beliau pernah nyantri di pondok Pesantren Mojosari, Desa Loceret, Nganjuk-Jatim (1959-1970), kemudian di Ponpes Ploso, Desa Mojo, Kediri-Jatim. Tekadnya yang besar untuk menuntut ilmu, mendorongnya mengembara dari pesantren ke pesantren di seluruh Jawa, walaupun hanya mampir satu dua hari atau sampai dua minggu. Bisa dipahami jika beliau punya banyak guru. Ada kejadian lucu ketika beliau suatu saat berguru kepada seorang Kyai. kawan-kawannya sering memanggilnya 'Mbah' karena perilaku dan sikapnya sudah seperti orang tua.

Pernah suatu ketika ada seorang pelacur menemuinya, minta doa agar 'Bisnis' nya laris. Dengan baik Kyai Djalil menerima tamu istimewa itu seperti beliau menerima tamu-tamu yang lain. "Dia datang minta doa penglaris, ya.. saya beri," Katanya enteng. Tapi tentu saja doa sang Sufi bukan sembarang doa, apa yang terjadi setelah itu? Beberapa hari kemudian perempuan itu datang lagi sambil menangis, perempuan itu bertobat.

Kyai Djalil punya hobi bersedekah. "Ayah saya sangat memanjakan anak-anaknya (7 anak; 4 putra, 3 putri). Dulu beliau sangat sengsara mencari makan (profesi Mbah Mustaqim adalah tukang Sol sepatu). Karena itu beliau berpesan supaya anak-anaknya harus suka bersedekah, karena sedekah merupakan bagian salah satu cara untuk keluar dari kesengsaraan." Tuturnya. Maka, baginya bersedekah merupakan bagian dari Tirakat, sebuah upaya untuk memenangkan perang batin antara kehendak menyimpan benda (untuk diri sendiri) dan memberi benda yang kita miliki (untuk orang lain). Dan sebagai Sufi, beliau tidak terlalu mementingkan uzlah atau menyepi untuk merenung. Menurutnya, mengamalkan tarekat sebagai seorang sufi bukan hanya memegang tasbeh, berdzikir di masjid, atau melakukan zawiyah/uzlah tanpa mempedulikan kehidupan duniawi dan kepentingan masyarakat. Menurutnya, salat 5 waktu dengan disiplin, mencari nafkah dengan jujur, menuntut ilmu dengan bersungguh-sungguh, merupakan kehidupan bertarekat. "Tapi ingat, jangan sampai semua itu menyebabkan kita melupakan Allah SWT. Enggak ada larangan berbisnis bagi pengikut tarekat. Bisnis tidak menghalangi seseorang untuk masuk surga. Sebab ada berjuta jalan menuju Allah," Katanya.

Dan kini, Jumat 7 januari 2005, Kyai Djalil yang penyabar telah menghadap Allah SWT. Sugeng tindak, Kyai.

Pesan-pesan yang saya pernah dengar langsung dari beliau, antara lain:

  1. Belajar tarekat itu wajib bagi manusia yang imannya tipis, karena sepersekian detik pun manusia tidak pernah lepas dari pikirannya akan dunia (istri, anak, finance, pekerjaan, studi, dll).

  2. Saya ini selalu sabar menjalani cobaan, meskipun disakiti orang-orang dekat dan teman sejawat. Tapi hati ini selalu saya tata untuk tetap tenang tanpa emosi walau berhadapan dengan model/karakter orang yang berbeda-beda, sekalipun yang menemuiku seorang penjahat.

  3. Tarekat itu anti maki-maki, tapi menyelesaikan masalah dengan musyawaroh, karena wong tarekat itu ahli dzikir bukan dengan akal pikiran yang selalu ditumpangi hawa nafsu.

  4. Wong Syadziliyyah itu kendel, harus berjuang untuk rakyat. Musti mendahulukan kepentingan-kepentingan umum seperti membuat madrasah, membuat masjid, atau dengan rajin puasa.

  5. Kondisi dan situasi negara ini sulit di prediksi oleh akal rasional, karena negeri ini adalah negeri yang paling banyak Waliyullahnya.

  6. Saya ini banyak mengkader murid, tapi tetap saja tidak resah meskipun tidak ada yang jadi.

  7. Dan lain-lain.


From : kiriman Email Julia Rani Anggraeni (Syadziliyawati Kendari)
Selengkapnya.....

15 September 2008

SMS Itu .............

Malam itu sekitar jam 00:30 seperti biasa Supi’i lagi asyik untuk merenung mengamati malam dari gezebo depan rumahnya. Malam ini terlihat bulan purnama bersinar terang, tanpa terhalang mendung dan kabut hitam. Indah sekali. Supi’i membayangkan apakah wajah Rosul seindah itu Ya ?, buru-buru Supi’i mengusir bayangan itu, karena bagi Supi’i jelas rasul tidak dapat disamakan dengan bulan, rasul lebih dari bulan, rasul Muhammad bin Abdullah adalah rahmat bagi alam semesta, rahmatal lil ‘alamin.Rasul adalah purnama bagi alam semesta. Kalau cuma purnama maka sinarnya hanya cukup menyinari daerah malam, sedangkan bila siang maka sinarnya akan kalah sama matahari. Rasul membawa cahaya islam yang terang benderang baik malam maupun siang. Memang rasul diibaratkan seperti purnama ketika jaman jahiliyah. Ya sinar cahaya yang menerangi kegelapan, seperti purnama yang menerangi kegelapan malam. Kebiasaan bertafakur itu selalu dilakukan Supi’i hingga malam memasuki sepertiga akhir dimana Supi’i dengan khusuknya untuk bermunajad kepada Allah.Tiba-tiba Supi’i dikagetkan oleh bunyi dari Hp-nya, SMS rupanya. “tumben sekali jam segini ada sms masuk”, guman Supi’i. Terlihat dari layar HP yang sudah mulai usang terlihat nama Cak a’an sahabat Supi’i. Segera dibaca sms tersebut :
“Supi’i, tolong doain aku dengan bacaan fatehah dikhususkan kepadaku, please, thanks b4”.
Supi’i segera membalas sms itu dengan kalimat singkat :“Ok, Insya Allah”.
Bagi Supi’i orang yang meminta tolong kepadanya maka harus ia tolong sebisa mungkin. Tetapi dalam hati Supi’i jadi bertanya-tanya ada apa gerangan, kok tumben cak a’an ini berlaku demikian. Padahal menurut sepengetahuan supi’i, sahabatnya ini adalah termasuk orang yang baik, yang selalu mentaati perintah Allah dan rasulnya serta menjauhi segala larangannya. “Ah masa bodoh lah, yang penting didoain aja sesuai dengan permintaannya”. Lirih Supi’i berkata.

Selang seminggu setelah sms itu, Supi’i secara tidak sengaja bertemu dengan cak a’an. Kesempatan inipun tidak disia-siakan oleh Supi’i untuk segera bertanya kepada cak a’an apa gerangan yang terjadi ?.
“Begini iii, aku merasa minggu-minggu terakhir ini aku gak tenang sekali. Biasanya telah kubuat daftar nilai untuk segala amal ibadahku, telah kubuat kolom-kolomnya, biasanya setiap hari aku sholat sunnah sekian kali, sholat wajib berjamah sekian kali, ikut di majelis taklim pulangnya hati tenang. Tapi sekarang iii, dari tabelku, grafiknya terlihat menurun iii, setiap habis sholat sekarang aku tidak merasa tenang. Aku takut pahalaku berkurang iii” kata-kata itu meluncur dari bibir cak a’an seperti anak yang wadul kepada orang tuanya.

“Tenanglah sahabatku, tenangkanlah dirimu, kamu sekarang harus instropeksi diri dulu, pasti ada sesuatu yang salah dari kamu. Kalau aku lihat ada yang salah dari niat kamu, kamu masih belum Lillahi ta’ala, kamu masih belum ikhlas, tujuanmu untuk beribadah entah itu sholat sunnah, jamaah sholat wajib ataupun pergi ke majelis taklim masih mengejar pahala, padahal Allah tidak butuh pahalamu, karena pahala itu haknya Allah, Allah hanya butuh keikhlasanmu, Engkau mesti Ikhlas dalam beramal, engkau mesti ikhlas dalam beribadah, agar Allah menerimaNya. Ikhlas adalah sayap burung amal ibadah. Tanpa sayap, bagaimana engkau dapat terbang ketempat kebahagian ?. bukannya hal ini sudah diterangkan oleh Ibnu At-tho’illah asy-syakandary dalam kitab hikamnya pada poin pertama :
“setengah dari tanda bahwa seseorang itu bersandar dari pada kekuatan amal usahanya, yaitu berkurangnya pengharapan terhadap rahmat karunia Allah ketika terjadi padanya suatu kesalahan/dosa.

Nah !, sudah terlihat jelas kan bahwa amal ibadah kita terlaksana hanya atas berkat rahmat Allah SWT. “Laa haula walaa quuwata ila billah”, tiada daya dan upaya kecuali hanya kepunyaan Allah. Termasuk ketika kita tidak dapat menghindar dari dosa, maka pasrahkanlah hatimu, segeralah istighfar agar maksiat yang telah engkau lakukan diampuni oleh Allah SWT. Alangkah sombongnya kita kalau kita mengandalkan amal kita, sama seperti iblis yang mengandalkan kehormatan dirinya ketika disuruh oleh Allah bersujud kepada nabi Adam as sebagai bentuk penghormatan.

Dzohirnya syariat menyuruh kita untuk berusaha beramal, sedangkan hakikat syariat melarang kita untuk menyandarkan diri pada amal usaha itu, supaya tetap bersandar pada Karunia Rahmad Allah.

Laa Haula Walaa quwwata illa billahi, tidak ada daya untuk mengelakkan diri dari bahaya kesalahan, dan tidak ada kekuatan untuk berbuat amal kebaikan kecuali dengan bantuan pertolongan Allah dan karunia rahmatNya semata-mata. Sedang bersandar kepada amal usaha itu berarti lupa pada karunia rahmad Allah yang memberi taufiq hidayah kepadanya. Yang akhirnya pasti ia ujub, sombong, merasa sempurna diri, sebagaimana yang telah terjadi pada iblis ketika diperintah bersujud kepada nabi Adam as. Termasuk dirimu cak, kamu bisa sholat sunnah, shalat berjamaah, aktif di majelis taklim pada hakikatnya yang menggerakkan adalah Allah SWT. Pahamilah seperti itu cak. Mestinya kita bisa merenung kenapa ketika adzan di kumandangkan dan kita disunnahkan untuk menjawab. Kenapa semua jawaban sama kecuali pada kalimat “chayya ‘alash sholaah” dan “chayya ‘alal falaach” kita menjawabnya “Laa Haula Walaa quwwata illa billahi”

Cobalah cak niatnya ditata lagi, lebih Lillahi ta’ala gitu lho. Dan teruskan ibadahmu seperti dulu cak, itu sudah bagus tinggal niatmu aja dan keikhlasanmu. Semoga kamu bisa istiqomah cak dan jangan lupa do’akan dan mohonkan ampunan kepada Allah SWT bagi seluruh muslimin dan muslimat, mukminin dan mukminat khususnya di indonesia.

Sambil memeluk supi’i cak a’an berkata lirih “terima kasih sahabatku”. Terlihat mata cak a’an berkaca-kaca penuh haru. Dalam hatinya dia bertekad untuk meluruskan lagi niatnya.

Selengkapnya.....

Resep Sulthonul Auliya' Syaikh Abul Hasan Asy Syadzili dalam menghilangkan was-was

Was-was ketika takbirotul ihrom merupakan permainan syaitan. Was-was itu menunjukkan adanya gangguan pada akal atau bisa juga karena bodoh dalam masalah agama. Asy syaikh Abul Hasan Asy Syadzili mengajarkan do’a kepada murid-muridnya untuk menolak was-was dan gangguan-gangguan pikiran yang buruk. Beliau mengatakan “ Barang siapa merasakan was-was, hendaklah meletakkan tangan kanannya pada dada dan mengucapkan doa dibawah ini :



“Subhaanal malikil qudduusil khollaaqil fa’aali “

Sebanyak 7 kali, kemudian mengucapkan do’a :



16. Jika Dia menghendaki, niscaya Dia memusnahkan kamu dan mendatangkan makhluk yang baru (untuk menggantikan kamu).
17. Dan yang demikian itu sekali-kali tidak sulit bagi Allah.
(QS Faathir 16 – 17)


From : "Fiqih Alternatif, Kumpulan Qoul Qoul Nyentrik, M. Ridlwan Qoyyum Said, Mitra Gayatri Lirboyo Kediri, 2006

Selengkapnya.....

Doa Sulthonul Auliya' Syaikh Abul Hasan Asy Syadzili 1

Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

Wahai Allah..
Wahai yang memberi Anugerah,
Wahai yang Maha banyak memberikan Karunia,
Wahai yang memiliki Karunia.
Siapa kiranya yang memperhatikan seorang hamba yang berkubang maksiat selain Engkau dalam keadaan dirinya benar-benar lemah untuk menjangkau Ridlo-Mu, dimana syahwatnya telah benar-benar merintangi dari berbakti kepada-Mu, dimana ia tiada memiliki seutas talipun yang dapat dijadikan pegangan selain meng-Esakan-Mu”

Bagaimana mungkin orang yang telah berpaling dari-Mu dapat memberanikan diri untuk memohon kepadaMu?.
Tapi bagaimana pula tidak memohon bagi orang yang benar-benar butuh kepadaMu?.
Tentu karena hanya anugerah-Mu juga jika saat sekarang ini tergerak hatiku untuk memohon kepada-Mu”

Dan Engkau telah memberikan kecukupan dengan tumbuhnya harapan kepadaMu,
Maka janganlah kiranya Engkau menolak doaku tanpa limpahan kasih sayangMu, wahai yang Maha memberi banyak anugerah.

Dan Engkau, Wahai Allah, yang telah menjadikan bagi asma’-Mu Kemuliaan dan Kewibawaan , maka barang siapa yang menyeru dengan asma’-Mu tiadalah ia menyekutukan sesuatu dengan-Mu, niscaya Engkau berkenan menjawabnya.
Wahai yang Maha Kuat yang tidak dapat dikalahkan oleh sesuatu bahkan menang atas segala sesuatu.
Wahai yang Maha Perkasa yang dapat memaksakan kehendak-Nya atas semua mahluk.
Wahai yang memiliki kebesaran, yang patut dipuji karena Keagunagn sifat-sifat-Nya.
Wahai yang menjadikan segala sesuatu.
Wahai yang Membuat rupa dan bentuk bagi segala sesuatu,
Peliharalah aku dari kegelisahan hati dan kegundahannya, dari kelemahan dan kemalasan, dari sifat penakut dan kikir, dari kebimbangan dan persangkaan buruk, dari beban beratnya hutang dan tanggung jawabnya, serta dari serangan orang-orang yang memusuhi..

Sungguh bagiMu asma’ yang sangat Indah, sementara mahluk yang ada dilangit dan di bumi benar-benar bertasbih kepada-Mu, dan Engkaulah yang Maha Perkasa dan Maha Bijaksana.

Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu, segala kebaikan dunia dan agama. Segala kebaikan dunia adalah keamanan, kesantunan, kelemah-lembutan, sehat dan afiat. Dan segala kebaikan agama adalah ketaatan kepada-Mu dan tawakkal atas-Mu, ridho dengan qodho’-Mu dan bersyukur atas semua karunia-Mu serta berbagai nikmat-Mu. Sesungguhnya Engkau berkuasa atas segala sesuatu,
Selengkapnya.....

Template by - Abdul Munir | Daya Earth Blogger Template