22 September 2008

Mengenal Allah Melalui Allah


Peristiwa paling monumental dalam sejarah dunia adalah turunnya Alquran kali pertama di Gua Hira'. Pertemuan Rasulullah Sayyidina Muhammad SAW dengan Malaikat Jibril saat itu, bertepatan dengan Lailatul Qadr, merupakan representasi dari awal sekaligus akhir perjalanan waktu dunia yang terbatas, menuju Waktu Ilahi yang tiada hingga, azali dan abadi.

Betapa tidak. Ketika Jibril AS memeluk beliau sambil mendiktekan bacaan, "Iqra'!," lalu dijawabnya, "Maa anaa bi qaari'" (Aku tak bisa membaca). Sebuah jawaban teologis, filosofis, dan sekaligus sufistik. Disebut teologis karena ketika itu Rasulullah berada di hadapan wajah Allah, sehingga yang ada hanyalah Tauhidullah, bahkan dirinya sendiri sekali pun sirna dalam Tauhid sampai harus berkata, "Aku tak bisa membaca..."

Begitu juga sangat filosofis, karena dunia filsafat tak habis-habisnya mengurai peristiwa itu, sebagai landasan utama peradaban tauhid di muka bumi, dan setiap dimaknai filosofis, muncul pula cahaya baru di balik makna yang tersembunyi.

Bahkan, juga sangat sufistik, karena "Al-qaari al-haqiqi huwa Allah ta'ala", Sang pembaca yang hakiki adalah Allah ta'ala. Karena Dialah Yang Berkalam dan Yang Maha Tahu makna kalam yang sesungguhnya.

Sampai ketiga kali, di saat Jibril AS meneruskan, Iqra' bismi robbikalladzi khalaq.... dst Nabi Muhammad SAW baru bisa menirukan. Di sinilah rahasia asma Allah tersembunyi -dan dalam urgensi ma'rifatullah (mengenal Allah) terurai , bagaimana Rasulullah SAW mampu membaca ketika kelanjutan ayat kalimat pada ayat itu tebersit kalimat. Bismi Rabbik (Dengan asma Tuhanmu). Seandainya boleh ditafsirkan, "Bacalah Alquran ini dengan nama Tuhanmu. Siapa nama Tuhanmu? "Allah!", dengan kata lain, bacalah Alquran ini dengan Allah... Allah... Allah...".

Memang demikian, akhirnya tak satu pun dari seluruh tinta yang menghabiskan tujuh lautan ruhani maupun tujuh lautan fisika, mampu menuliskan, melukiskan, bahkan menggambarkan dahsyatnya ilmu Allah dalam kalamullah itu. Yang ada hanyalah gemuruh jiwa yang menggetarkan seluruh jagat semesta ruhani dan jasmani, dalam kristal jantung Rasulullah SAW, sampai beliau menggigil dalam fana'ul fana'. Karena Wayabqqo wajhu rabbika dzul-jalaali wal-ikraam, (Yang ada hanyalah wajah Tuhanmu Yang Maha Agung nan Mulia) ketika itu.

"Zammiluuni... Zammiluuni...." Selimuti aku.... selimuti aku.... Seakan Rasulullah SAW, berkata, "Selimuti aku.... selimuti... karena Cahaya dari Maha Cahaya-Mu yang memancar di seluruh jagat cerminku. Selimuti aku, selimuti...., betapa senyap, sunyi, beku, dingin, tiada tara dalam Genggaman-Mu.... Selimuti... Oh, selimuti.... dan akulah sesungguhnya selimut-Mu.... Akulah Nama-Mu, akulah Ismu Rabbik itu... Oh....."

Saat itu, dan mulai kala itu pula, tiada hari tanpa munajat, tiada kondisi dan waktu, melainkan adalah waktu-waktu penuh liqa' Allah (pertemuan dengan Allah). Maka ismu Rabbik (nama Tuhanmu) itu melimpah begitu dahsyatnya tanpa bisa terucap, tertulis, dan terbayang, menjadi al-asma'ul husna, di antaranya asmaul husna dalam surat Al-Hasyr yang ada dalam Alquran.

Peristiwa Hira' itu juga awal mula sebuah ajaran tentang zikrulah dimulai. Gemuruh zikrullah telah menyelimuti seluruh nadi, ruh, dan sirr (rahasia batin) Rasulullah SAW, dalam hamparan jiwanya. Karena hanya jiwa-jiwa yang beriman yang bisa menjadi istana ilahiyah.Bahkan, dari 99 al-asmaul husna yang pernah dihaditskan oleh Rasulullah SAW, dibaca oleh Asy-Syeikhul Akbar Muhyiddin Ibnu 'Araby, kemudian tertulis dalam kitabnya, An-Nuurul Asna Bi-MunajaatiLlaahi Bi-Asmaail Husnaa. 99 Munajat yang begitu indah, sekaligus menggambarkan huquq ar-rubuiyyah (Hak-hak Ketuhahan) dan huqul 'ibad wal 'ubudiyah (hak-hak kehambaan dan ubudiyah).

Misalnya, ketika membaca asma-Nya, "Allah", Ibnu 'Araby bermunajat: Ya Allah, tunjukkan padaku, bersama-Mu, kepada-Mu. Limpahilah rizki keteguhan (keketapan) di sisi Wujud-Mu, sepanjang diriku dengannya, untuk beradab di hadapan-Mu....

Yaa... Rahmaan, kasihanilah daku dengan pemenuhan paripurna nikmat-nikmat-Mu, tersampainya cita-cita ketika menahan cobaan-cobaan dahsyat dan ujian-Mu.

Yaa... Rahiim, sayangilah daku dengan memasukkan ke syurga-Mu dan bersuka ria dengan taqarrub dan memandang-Mu...

Yaa Maalik, Wahai.... Diraja dunia dan akhirat, dengan kekuasaan mutlak paripurna, jadikan diriku sampai di jannatun na'im dan Kerajaan Agung dengan beramal penuh total.

Yaa.. Quddus, sucikan diriku dari aib-aib dan bencana, sucikan diriku dari dosa-dosa dan kejahatan diri.

Yaa... Salaam, selamatkan daku dari seluruh sifat yang tercela, dan jadikan diriku golongan orang yang datang kepada-Mu dengan qalbun saliim.

Ya... Mu'min, amankanlah daku di hari yang paling mengejutkan, limpahilan rizki padaku dengan bertambahnya iman kepada-Mu, sebagai bagianku.

Yaa... Muhaimin, jadikanlah diriku sebagai penyaksi dan pemandang atas pemeliharaan-Mu, dan jadikanlah daku sebagai pemelihara dan pemegang amanah-amanah-Mu dan janji-janji-Mu.

Yaa...Aziz, jadikanlah daku dengan Perkasa-Mu termasuk orang-orang yang merasa hina di hadapan-Mu dan berikanlah padaku amaliah dengan amal-amal akhirat di sisi-Mu.

Yaa... Jabbaar..., paksalah diriku untuk berselaras dengan kehendak-Mu, dan janganlah Engkau jadikan aku sebagai pemaksa pada hamba-hamba-Mu.

Yaa.. Mutakabbir, jadikanlah daku termasuk orang-orang yang tawadlu' atas kebesaran-kebesaran-Mu, tergolong orang-orang yang tunduk atas hukum dan keputusan-Mu.

Yaa... Khaaliq, ciptakan pertolongan dalam hatiku untuk taat kepadaM-u, dan lindungi daku dari kezaliman dan pengikutnya di antara makhluk-makhluk-Mu.

Yaa... Baari', jadikanlah diriku golongan yang terbaik dari manusia, dan riaslah daku dengan akhlak baik yang diridai.

Yaa... Mushawwir, rupakanlah diriku dengan bentuk ubudiyah pada-Mu, dan cahayailah daku dengan cahaya-cahaya makrifat-Mu. Dan seterusnya sampai sembilan puluh sembilan nama Allah.

Itulah implementasi lain dari "Berakhlaqlah dengan akhlaq-akhlaq Allah". Maka al-asmaul husna adalah hampiran pertama, ketika seorang hamba ingin merespons akhlaqullah, melalui munajat-munajat sebagaimana digambarkan Ibnu 'Araby. Membaca, sekaligus aksentuasi dalam kehidupan nyata bahwa pada diri manusia harus "bersiap diri" untuk menjadi limpahan asma-Nya, agar mengenal-Nya. ***

KH. M. Luqman Hakiem, MA
Jawa Pos, Minggu 21 September 2008
Selengkapnya.....

21 September 2008

Doa Sulthonul Auliya' Syaikh Abul Hasan Asy Syadzili 3


Dengan menyebut Nama Allah Yang Maha Pemurah dan Maha Penyayang

Wahai Allah.....
Wahai Yang Maha Terpuji, Wahai Yang Maha Mulia
Wahai Allah......
Wahai yang Maha Pemurah, Wahai yang Maha Baik, Wahai yang Maha Penyayang
Wahai Allah......
Wahai Yang Maha Perkasa, Wahai Yang Maha Kokoh


Anugerahilah aku dari Rahmad-Mu, sesuatu yang dengannya aku dapat memuji-Mu, sehingga aku termasuk orang-orang yang mukmin.
Berilah aku rizki dari kelemahlembutan kemuliaan-Mu, sesuatu yang dengannya aku menjadi kuat dan dapat mengangkat dan terangkat didalam semesta alam.
Anugerahilah aku dari kemurahan-Mu, sesuatu yang dengannya aku menjadi orang baik dan taqwa dari golongan orang-orang sholeh.

Wahai yang Maha Kasih Sayang, Wahai yang Maha Lembut
Aku mohon kelemahlembutan dengan kelemahlembutan yang tidak dapat dilihat oleh persangkaan para penyangka.

Wahai Allah......
Aku menyakini Engkau Maha Penyanyang ketika aku tidak memohon kepada-Mu, maka bagaimana aku tidak menyakini Engkau Maha Penolong, padahal aku selalu memohon kepada-Mu ? Siapakah kiranya bagiku jika Engkau memutuskan hubungan denganku ?
Dan Siapakah kiranya bagiku kalau Engkau tidak menyayangi aku ?
Maka pertemukanlah aku dari manapun arah yang Engkau ketahui dan tidak aku ketahui.
Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Sholawat Allah dan salam-Nya tetap kepada junjungan kita nabi Muhammad SAW, kepada para keluarga dan para sahabat-Nya, semuanya.
Selengkapnya.....

17 September 2008

Gus Jakfar


Di antara putera-putera Kiai Saleh, pengasuh pesantren "Sabilul Muttaqin" dan sesepuh di daerah kami, Gus Jakfar-lah yang paling menarik perhatian masyarakat. Mungkin Gus Jakfar tidak sealim dan sepandai saudara-saudaranya, tapi dia mempunyai keistimewaan yang membuat namanya tenar hingga ke luar daerah, malah konon beberapa pejabat tinggi dari pusat memerlukan sowan khusus ke rumahnya setelah mengunjungi Kiai Saleh. Kata Kang Solikin yang dekat dengan keluarga ndalem, bahkan Kiai Saleh sendiri segan dengan anaknya yang satu itu.

"Kata Kiai, Gus Jakfar itu lebih tua dari beliau sendiri," cerita Kang Solikin suatu hari kepada kawan-kawannya yang sedang membicarakan putera bungsu Kiai Saleh itu. "Saya sendiri tidak paham apa maksudnya."
"Tapi, Gus Jakfar memang luar biasa," kata Mas Bambang, pegawai Pemda yang sering mengikuti pengajian subuh Kiai Saleh. "Matanya itu lho. Sekilas saja mereka melihat kening orang, kok langsung bisa melihat rahasianya yang tersembunyi. Kalian ingat, Sumini yang anak penjual rujak di terminal lama yang dijuluki perawan tua itu, sebelum dilamar orang sabrang kan ketemu Gus Jakfar. Waktu itu Gus Jakfar bilang, 'Sum, kulihat keningmu kok bersinar, sudah ada yang ngelamar ya?'. Tak lama kemudian orang sabrang itu datang melamarnya."

"Kang Kandar kan juga begitu," timpal Mas Guru Slamet. "Kalian kan mendengar sendiri ketika Gus Jakfar bilang kepada tukang kebun SD IV itu, 'Kang, saya lihat hidung sampeyan kok sudah bengkok, sudah capek menghirup nafas ya?' Lho, ternyata besoknya Kang Kandar meninggal."

"Ya. Waktu itu saya pikir Gus Jakfar hanya berkelakar," sahut Ustadz Kamil, "Nggak tahunya beliau sedang membaca tanda pada diri Kang Kandar."

"Saya malah mengalami sendiri," kata Lik Salamun, pemborong yang dari tadi sudah kepingin ikut bicara. "Waktu itu, tak ada hujan tak ada angina, Gus Jakfar bilang kepada saya, 'Wah, saku sampeyan kok mondol-mondol; dapat proyek besar ya?' Padahal saat itu saku saya justru sedang kemps. Dan percaya atau tidak, esok harinya saya memenangkan tender yang diselenggarakan Pemda tingkat propinsi."

"Apa yang begitu itu disebut ilmu kasyaf?" tanya Pak Carik yang sejak tadi hanya asyik mendengarkan.
"Mungkin saja," jawab Ustadz Kamil. "Makanya saya justru takut ketemu Gus Jakfar. Takut dibaca tanda-tanda buruk saya, lalu pikiran saya terganggu."
***
Maka, ketika kemudian sikap Gus Jakfar berubah, masyarakat pun geger; terutama para santri kalong, orang-orang kampung yang ikut mengaji tapi tidak tinggal di pesantren seperti Kang Solikin yang selama ini merasa dekat dengan beliau. Mula-mula Gus Jakfar menghilang berminggu-minggu, kemudian ketika kembali tahu-tahu sikapnya berubah menjadi manusia biasa. Dia sama sekali berhenti dan tak mau lagi membaca tanda-tanda. Tak mau lagi memberikan isyarat-isyarat yang berbau ramalan. Ringkas kata, dia benar-benar kehilangan keistimewaannya.

"Jangan-jangan ilmu beliau hilang pada saat beliau menghilang itu," komentar Mas Guru Slamet penuh penyesalan. "Wah, sayang sekali! Apa gerangan yang terjadi pada beliau?"

"Ke mana beliau pergi saat menghilang pun, kita tidak tahu;" kata Lik Salamun. "Kalau saja kita tahu ke mana beliau pergi, mungkin kita akan mengetahui apa yang terjadi pada beliau dan mengapa beliau kemudian berubah."

"Tapi, bagaimanapun ini ada hikmahnya," ujar Ustadz Kamil. "Paling tidak, kini kita bisa setiap saat menemui Gus Jakfar tanpa merasa deg-degan dan was-was; bisa mengikuti pengajiannya dengan niat tulus mencari ilmu. Maka, jangan kita ingin mengetahui apa yang terjadi dengan gus kita ini hingga sikapnya berubah atau ilmunya hilang, sebaiknya kita langsung saja menemui beliau."

Begitulah, sesuai usul Ustadz Kamil, pada malam Jum'at sehabis wiridan salat Isya, saat mana Gus Jakfar prei, tidak mengajar; rombongan santri kalong sengaja mendatangi rumahnya. Kali ini hampir semua anggota rombongan merasakan keakraban Gus Jakfar, jauh melebihi yang sudah-sudah. Mungkin karena kini tidak ada lagi sekat berupa rasa segan, was-was dan takut.

Setelah ngobrol ke sana kemari, akhirnya Ustadz Kamil berterus terang mengungkapkan maksud utama kedatangan rombongan: "Gus, di samping silaturahmi seperti biasa, malam ini kami datang juga dengan sedikit keperluan khusus. Singkatnya, kami penasaran dan sangat ingin tahu latar belakang perubahan sikap sampeyan."
"Perubahan apa?" tanya Gus Jakfar sambil tersenyum penuh arti. "Sikap yang mana? Kalian ini ada-ada saja. Saya kok merasa tidak berubah."

"Dulu sampeyan kan biasa dan suka membaca tanda-tanda orang," tukas Mas Guru Slamet, "kok sekarang tiba-tiba mak pet, sampeyan tak mau lagi membaca, bahkan diminta pun tak mau."

"O, itu," kata Gus Jakfar seperti benar-benar baru tahu. Tapi dia tidak segera meneruskan bicaranya. Diam agak lama. Baru setelah menyeruput kopi di depannya, dia melanjutkan, "Ceritanya panjang." Dia berhenti lagi, membuat kami tidak sabar, tapi kami diam saja.

"Kalian ingat, saya lama menghilang?" akhirnya Gus Jakfar bertanya, membuat kami yakin bahwa dia benar-benar siap untuk bercerita. Maka serempak kami mengangguk. "Suatu malam saya bermimpi ketemu ayah dan saya disuruh mencari seorang wali sepuh yang tinggal di sebuah desa kecil di lereng gunung yang jaraknya dari sini sekitar 200 km kea rah selatan. Namanya Kiai Tawakkal. Kata ayah dalam mimpi itu, hanya kiai-kiai tertentu yang tahu tentang kiai yang usianya sudah lebih 100 tahun ini. Santri-santri yang belajar kepada beliau pun rata-rata sudah disebut kiai di daerah masing-masing."

"Terus terang, sejak bermimpi itu, saya tidak bisa menahan keinginan saya untuk berkenalan dan kalau bisa berguru kepada Wali Tawakkal itu. Maka dengan diam-diam dan tanpa pamit siapa-siapa, saya pun pergi ke tempat yang ditunjukkan ayah dalam mimpi dengan niat bilbarakah dan menimba ilmu beliau. Ternyata, ketika sampai di sana, hampir semua orang yang saya jumpai mengaku tidak mengenal nama Kiai Tawakkal. Baru setelah seharian melacak ke sana kemari, ada seorang tua yang memberi petunjuk."

'Cobalah nakmas ikuti jalan setapak di sana itu' katanya. 'Nanti nakmas akan berjumpa dengan sebuah sungai kecil; terus saja nakmas menyeberang. Begitu sampai seberang, nakmas akan melihat gubuk-gubuk kecil dari bambu. Nah, kemungkinan besar orang yang nakmas cari akan nakmas jumpai di sana. Di gubuk yang terletak di tengah-tengah itulah tinggal seorang tua seperti yang nakmas gambarkan. Orang sini memanggilnya Mbah Jogo. Barangkali itulah yang nakmas sebut Kiai siapa tadi?'

'Kiai Tawakkal.'

'Ya, Kiai Tawakkal. Saya yakin itulah orangnya, Mbah Jogo.'

"Saya pun mengikuti petunjuk orang tua itu, menyeberang sungai dan menemukan sekelompok rumah gubuk dari bambu."

"Dan betul, di gubuk bambu yang terletak di tengah-tengah, saya menemukan Kiai Tawakkal alias Mbah Jogo sedang dikelilingi santri-santrinya yang rata-rata sudah tua. Saya diterima dengan penuh keramahan, seolah-olah saya sudah merupakan bagian dari mereka. Dan kalian tahu? Ternyata penampilan Kiai Tawakkal sama sekali tidak mencerminkan sosoknya sebagai orang tua. Tubuhnya tegap dan wajahnya berseri-seri. Kedua matanya indah memancarkan kearifan. Bicaranya jelas dan teratur. Hampir semua kalimat yang meluncur dari mulut beliau bermuatan kata-kata hikmah."

Tiba-tiba Gus Jakfar berhenti, menarik nafas panjang, baru kemudian melanjutkan, "Hanya ada satu hal yang membuat saya terkejut dan tgerganggu. Saya melihat di kening beliau yang lapang ada tanda yang jelas sekali, seolah-olah saya membaca tulisan dengan huruf yang cukup besar dan berbunyi 'Ahli Neraka'. Astaghfirullah! Belum pernah selama ini saya melihat tanda yang begitu gambling. Saya ingin tidak mempercayai apa yang saya lihat. Pasti saya keliru. Masak seorang yang dikenal wali, berilmu tinggi, dan disegani banyak kiai yang lain, disurati sebagai ahli neraka. Tak mungkin. Saya mencoba meyakin-yakinkan diri saya bahwa itu hanyalah ilusi, tapi tak bisa. Tanda itu terus melekat di kening beliau. Bahkan belakangan saya melihat tanda itu semakin jelas ketika beliau habis berwudhu. Gila!"

"Akhirnya niat saya untuk menimba ilmu kepada beliau, meskipun secara lisan memang saya sampaikan demikian, dalam hati sudah berubah menjadi keinginan untuk menyelidiki dan memecahkan keganjialan ini. Beberapa hari saya amati perilaku Kiai Tawakkal, saya tidak melihat sama sekali hal-hal mencurigakan. Kegiatan rutinnya sehari-hari tidak begitu berbeda dengan kebanyakan kiai yang lain: mengimami salat jamaah; melakukan salat-salat sunnat seperti dhuha, tahajjud, witir,dsb.; mengajar kitab-kitab (umumnya kitab-kitab besar); mujahadah; dzikir malam; menemui tamu; dan semacamnya. Kalaupun beliau keluar, biasanya untuk memenuhi undangan hajatan atau- dan ini sangat jarang sekali- mengisi pengajian umum. Memang ada kalanya beliau keluar pada malam-malam tertentu; tapi menurut santri-santri yang lama, itu pun merupakan kegiatan rutin yang sudah dijalani Kiai Tawakkal sejak muda. Semacam lelana brata, kata mereka."

"Baru setelah beberapa minggu tinggal di 'pesantren bambu', saya mendapat kesempatan atau tepatnya keberanian untuk mengikuti Kiai Tawakkal keluar. Saya pikir, inilah kesempatan untuk mendapatkan jawaban atas tanda tanya yang selama ini mengganggu saya."

"Begitulah, pada suatu malam purnama, saya melihat Kiai keluar dengan berpakaian rapi. Melihat waktunya yang sudah larut, tidak mungkin beliau pergi untuk mendatangi undangan hajatan atau lainnya. Dengan hati-hati saya membuntutinya dari belakang; tidak terlalu dekat, tapi juga tidak terlalu jauh. Dari jalan setapak hingga ke jalan desa, Kiai terus berjalan dengan langkah yang tetap tegap. Akan ke mana beliau gerangan? Apa ini yang disebut semacam lelana brata? Jalanan semakin sepi; saya pun semakin berhati-hati mengikutinya, khawatir tiba-tiba Kiai menoleh ke belakang."

"Setelah melewati kuburan dan kebun sengon, beliau berbelok. Ketika kemudian saya ikut belok, saya kaget, ternyata sosoknya tak kelihatan lagi. Yang terlihat justru sebuah warung yang penuh pengunjung. Terdengar gelak tawa ramai sekali. Dengan bengong saya mendekati warung terpencil dengan penerangan petromak itu. Dua orang wanita- yang satu masih muda dan yang satunya lagi agak lebih tua- dengan dandanan yang menor sibuk melayani pelanggan sambil menebar tawa genit ke sana kemari. Tidak mungkin Kiai mampir ke warung ini, pikir saya. Ke warung biasa saja tidak pantas, apalagi warung yang suasananya saja mengesankan kemesuman ini.

'Mas Jakfar!' tiba-tiba saya dikagetkan oleh suara yang tidak asing di telinga saya, memanggil-manggil nama saya. Masyaallah, saya hampir-hampir tidak mempercayai pendengaran dan penglihatan saya. Memang betul, mata saya melihat Kiai Tawakkal melambaikan tangan dari dalam warung. Ah. Dengan kikuk dan pikiran tak karuan, saya pun terpaksa masuk dan menghampiri kiai yang saya yang duduk santai di pojok. Warung penuh dengan asap rokok. Kedua wanita menor menyambut saya dengan senyum penuh arti. Kiai Tawakkal menyuruh orang disampingnya untuk bergeser, 'Kasi kawan saya ini tempat sedikit!' Lalu, kepada orang-orang yang ada di warung, Kiai memperkenalkan saya. Katanya, 'Ini kawan saya, dia baru datang dari daerah yang cukup jauh. Cari pengalaman katanya'. Mereka yang duduknya dekat serta merta mengulurkan tangan, menjabat tangan saya dengan ramah; sementara yang jauh melambaikan tangan".

"Saya masih belum sepenuhnya menguasai diri, masih seperti dalam mimpi, ketika tiba-tiba saya dengar Kiai menawari, 'Minum kopi ya?!' Saya mengangguk asal mengangguk. 'Kopi satu lagi, Yu!' kata Kiai kepada wanita warung sambil mendorong piring jajan ke dekat saya. 'Silakan! Ini namanya rondo royal, tape goreng kebanggan warung ini! Lagi-lagi saya hanya menganggukkan kepala asal mengangguk."

"Kiai Tawakkal kemudian asyik kembali dengan 'kawan-kawan'-nya dan membiarkan saya bengong sendiri. Saya masih tak habis pikir, bagaimana mungkin Kiai Tawakkal yang terkenal waliyullah dan dihormati para kiai lain bisa berada di sini. Akrab dengan orang-orang beginian; bercanda dengan wanita warung. Ah, inikah yang disebut lelana brata? Ataukah ini merupakan dunia lain beliau yang sengaja disembunyikan dari umatnya? Tiba-tiba saya seperti mendapat jawaban dari tanda tanya yang selama ini mengganggu saya dan karenanya saya bersusah payah mengikutinya malam ini. O, pantas di keningnya kulihat tanda itu. Tiba-tiba sikap dan pandangan saya terhadap beliau berubah."

'Mas, sudah larut malam,'tiba-tiba suara Kiai Tawakkal membuyarkan lamunan saya. 'Kita pulang, yuk!' Dan tanpa menunggu jawaban saya, Kiai membayari minuman dan makanan kami, berdiri, melambai kepada semua, kemudian keluar. Seperti kerbau dicocok hidung, saya pun mengikutinya. Ternyata setelah melewati kebon sengon, Kiai Tawakkal tidak menyusuri jalan-jalan yang tadi kami lalui. 'Biar cepat, kita mengambil jalan pintas saja!' katanya."

"Kami melewati pematang, lalu menerobos hutan, dan akhirnya sampai di sebuah sungai. Dan, sekali lagi saya menyaksikan kejadian yang menggoncangkan. Kiai Tawakkal berjalan di atas permukaan air sungai, seolah-olah di atas jalan biasa saja. Sampai di seberang, beliau menoleh ke arah saya yang masih berdiri mematung. Beliau melambai. 'Ayo!' teriaknya. Untung saya bisa berenang; saya pun kemudian berenang menyeberangi sungai yang cukup lebar. Sampai di seberang, ternyata Kiai Tawakkal sudah duduk-duduk di bawah pohon randu alas, menunggu. 'Kita istirahat sebentar,' katanya tanpa menengok saya yang sibuk berpakaian. 'Kita masih punya waktu, insya Allah sebelum subuh kita sudah sampai pondok.'

Setelah saya ikut duduk di sampingnya, tiba-tiba dengan suara berwibawa, Kiai berkata mengejutkan, 'Bagaimana? Kau sudah menemukan apa yang kaucari? Apakah kau sudah menemukan pembenar dari tanda yang kaubaca di kening saya? Mengapa kau seperti masih terkejut? Apakah kau yang mahir melihat tanda-tanda menjadi ragu terhadap kemahiranmu sendiri?' Dingin air sungai rasanya semakin menusuk mendengar rentetan pertanyaan beliau yang menelanjangi itu. Saya tidak bisa berkata apa-apa. Beliau yang kemudian terus berbicara.

'Anak muda, kau tidak perlu mencemaskan saya hanya karena kau melihat tanda "Ahli Neraka" di kening saya. Kau pun tidak perlu bersusah-payah mencari bukti yang menunjukkan bahwa aku memang pantas masuk neraka. Karena, pertama, apa yang kau lihat belum tentu merupakan hasil dari pandangan kalbumu yang bening. Kedua, kau kan tahu, sebagaimana neraka dan sorga, aku adalah milik Allah. Maka terserah kehendak-Nya, apakah Ia memasukkan diriku ke sorga atau neraka. Untuk memasukkan hamba-Nya ke sorga atau neraka, sebenarnyalah Ia tidak memerlukan alasan. Sebagai kiai, apakah kau berani menjamin amalmu pasti mengantarkanmu ke sorga kelak? Atau kau berani mengatakan bahwa orang-orang di warung yang tadi kau pandang sebelah mata itu pasti masuk neraka? Kita berbuat baik karena kita ingin dipandang baik oleh-Nya, kita ingin berdekat-dekat dengan-Nya, tapi kita tidak berhak menuntut balasan kebaikan kita. Mengapa? Karena kebaikan kita pun berasal dari-Nya. Bukankah begitu?'

Aku hanya bisa menunduk. Sementara Kiai Tawakkal terus berbicara sambil menepuk-nepuk punggung saya. 'Kau harus lebih berhati-hati bila mendapat cobaan Allah berupa anugerah. Cobaan yang berupa anugerah tidak kalah gawatnya dibanding cobaan yang berupa penderitaan. Seperti mereka yang di warung tadi; kebanyakan mereka orang susah. Orang susah sulit kau bayangkan bersikap takabbur; ujub, atau sikap-sikap lain yang cenderung membesarkan diri sendiri. Berbeda dengan mereka yang mempunyai kemampuan dan kelebihan: godaan untuk takabbur dan sebagainya itu datang setiap saat. Apalagi bila kemampuan dan kelebihan itu diakui oleh banyak pihak'

Malam itu saya benar-benar merasa mendapatkan pemahaman dan pandangan baru dari apa yang selama ini sudah saya ketahui.

'Ayo kita pulang!' tiba-tiba Kiai bangkit. 'Sebentar lagi subuh. Setelah sembahyang subuh nanti, kau boleh pulang.' Saya tidak merasa diusir; nyatanya memang saya sudah mendapat banyak dari kiai luar biasa ini."

"Ketika saya ikut bangkit, saya celingukan. Kiai Tawakkal sudah tak tampak lagi. Dengan bingung saya terus berjalan. Kudengar azan subuh berkumandang dari sebuah surau, tapi bukan surau bambu. Seperti orang linglung, saya datangi surau itu dengan harapan bisa ketemu dan berjamaah salat subuh dengan Kiai Tawakkal. Tapi, jangankan Kiai Tawakkal, orang yang mirip beliau pun tak ada. Tak seorang pun dari mereka yang berada di surau itu yang saya kenal. Baru setelah sembahyang, seseorang menghampiri saya. 'Apakah sampeyan Jakfar?' tanyanya. Ketika saya mengiyakan, orang itu pun menyerahkan sebuah bungkusan yang ternyata berisi barang-barang milik saya sendiri. 'Ini titipan Mbah Jogo, katanya milik sampeyan.'

'Beliau di mana?' tanya saya buru-buru.

'Mana saya tahu?' jawabnya. 'Mbah Jogo datang dan pergi semaunya. Tak ada seorang pun yang tahu dari mana beliau datang dan ke mana beliau pergi.'

Begitulah ceritanya. Dan Kiai Tawakkal alias Mbah Jogo yang telah berhasil mengubah sikap saya itu tetap merupakan misteri."

Gus Jakfar sudah mengakhiri ceritanya, tapi kami yang dari tadi suntuk mendengarkan masih diam tercenung sampai Gus Jakfar kembali menawarkan suguhannya.

From : www.Gusmus.net

Selengkapnya.....

16 September 2008

Tanpa Kita sadari kita makan dan minum menggunakan tangan kiri

Dalam kitab shahih muslim dijelaskan Imam muslim meriwayatkan hadist dari Ibnu ‘umar bahwa nabi muhammad saw pernah bersabda : "Jika seseorang makan, maka hendaklah ia makan dengan menggunakan tangan kanannya, jika ia minum, maka hendaklah ia minum dengan menggunakan tangan kanannya. Alasannya karena setan makan dan minum dengan menggunakan tangan kirinya".

Salah satu adab ketika makan dan bagi seorang muslim adalah makan dan minum dengan menggunakan tangan kanan, tetapi tanpa kita sadari dan kita rasakan atau malah kita sadar sesadar-sasadarnya sering kali kita justru makan dan minum dengan menggunakan tangan kiri. Berikut ini beberapa contohnya :
1. Ketika kita makan dengan menggunakan sendok dan garpu. Garpu yang berada di tangan kiri sering kali juga ikut kita gunakan untuk makan, entah itu untuk sekedar mengambil lauknya.
2. Ketika kita makan bistik /beef steak, dimana tangan kanan memegang pisau, sedangkan tangan kiri memegang garpu, daging yang kita iris dengan memakai pisau di tangan kanan, kemudian kita ambil dan kita makan dengan menggunakan garpu yang ada di tangan kiri.
3. Ketika kita makan nasi dan ada hidangan pelengkap krupuk. Sering kali kita makan krupuknya dengan menggunakan tangan kiri.
4. Ketika kita makan dengan tidak menggunakan sendok dan garpu, ditengah kita makan kita ingin minum entah itu karena kesereten (jawa) atau yang lainnya maka kita sering minum dengan menggunakan tangan kiri.
5. Ketika kita makan kue/gorengan (Ote-ote/tahu isi) dengan pelengkap lombok. Gorengan kita makan dengan tangan kanan tetapi lombonya kita makan dengan menggunakan tangan kiri.
6. Ketika kita makan pisang. Sering kali pisang kita pegang dengan tangan kiri dan tangan kanan bekerja untuk mengelupas kulitnya, setelah itu pisang langsung kita makan dengan menggunakan tangan kiri.
7. Ketika kita minum air mineral dalam botol. Seringkali botol kita pegang dengan tangan kiri, sedangkan tangan kanan bekerja untuk membuka tutup botolnya, setelah itu langsung kita minum dengan menggunakan tangan kiri.
8. Ketika kita minum air mineral kemasan gelas. Seringkali gelas kita pegang dengan tangan kiri, sedangkan tangan kanan bekerja untuk meletakkan sedotannya ke gelas tersebut, setelah itu air langsung kita minum dengan menggunakan tangan kiri.

Semoga kita terbiasa makan dan minum dengan menggunakan tangan kanan. Dan semoga apa yang kita makan dan minum menjai berkah. Amiin.

Selengkapnya.....

Ternyata Seperguruan...........

Sore ini supi’i teringat akan janjinya bahwa ia harus segera pergi ke teman barunya, ya teman baru supi’i ini adalah seseorang yang tinggal di pinggiran kota surabaya. Namanya adalah Cak i’im. Supi’i secara tidak sengaja berkenalan dengannya. Ceritanya pada saat itu kebetulan supi’i pingin ke toilet untuk buang air kecil. Setelah selesai dari toilet seperti biasanya supi’i segera mengambil air wudlu di tempat wudlu (maklum supi’i berusaha mengamalkan batal wudlu yang merupakan jurus dasar PETA), setelah itu supi’i berniat untuk membayar.

Setelah membayar inilah supi’i melihat ada lembaran wirid hizb kahfi di meja tempat ia membayar. Timbul penasaran pada diri supi’i untuk mengetahui tentang itu. Hal ini dikarenakan supi’i adalah juga pengamal hizb kahfi tersebut. Setelah berkenalan dan berbincang-bincang maka barulah tahu bahwa cak i’im ini ternyata adalah seperguruan dengan dirinya tetapi lewat pintu yang berbeda. Ya pekerjaan cak i’im ini adalah penjaga toilet di pojok terminal di surabaya.

Hari ini supi’i akan kembali bertemu dengan cak i’im. Supi’i pingin semakin akrab dengan teman barunya ini. Profile cak i’im ini adalah kalem bahkan cenderung sangat kalem sekali, untuk mendengar ia bicara aja supi’i harus mendekatkan telinganya supaya terdengar jelas. Selain itu cak i'im adalah type orang yang rendah hati, selalu senyum dan membuat orang-orang sungkan dan segan kepadanya.

Bukan hanya profile cak i’im itu yang membuat supi’i kagum kepadanya, tetapi lingkungan kerja dia yang membuat supi’i heran. Ketika lama menemani cak i’im untuk menjaga toilet ini. Barulah sadar bahwa lingkungan yang cak i’im tempati untuk bekerja ini adalah lingkungan yang ekstrem bagi orang baik seperti cak i’im.

Betapa tidak, tak jauh dari toilet-toilet itu terdapat kamar-kamar yang tidak hanya di tempati oleh anak-anak jalanan yang yang tidak punya tempat tinggal, tetapi juga di tempati oleh para wanita-wanita “penghibur”. Sehingga mau ga mau orang-orang itu juga pasti akan menggunakan toiletnya cak i'im. Padahal sedianya bisnis toilet itu di khususkan bagi orang-orang yang memerlukan di terminal seperti para sopir, kondektur, kernet maupun penumpangnya.

“Sebenarnya mereka itu pada dasarnya adalah orang-orang baik, tetapi karena tuntutan ekonomi dan tipisnya iman sehingga mereka jadi begitu. Kita gak bisa berbuat apa-apa mas supi’i Cuma bisa memberikan nasihat yang santun, itupun lewat sindiran-sindiran dan mendoakannya saja, karena hidayah itu kan datangnya dari Allah”. Banyak kasus kok kalau Allah mentakdirkan hambanya berbuat maksiat agar selanjutnya bertaubat dan menjadi dekat kepada-Nya. Ada sih beberapa orang dari mereka minta tolong untuk di carikan suami agar mereka bisa berhenti dari pekerjaannya. Nah apa mas supi’i mau menjadikan istri salah satu dari mereka ?, berarti mas supi’i sudah menolong salah satu dari mereka lho.... Mendapat pertanyaan begitu supi’i menjadi gelagapan. Oh enggak cak i’im..., aku belum berpikiran ke arah situ kok, eles supi’i.

Sambil mengalihkan pembicaraan supi’i kemudian bertanya kepada cak i’im. Cak i’im kalau aku lihat sih hizib kahfi’mu berbeda dengan yang biasa aku baca, punya cak i’im Cuma diulang sedikit, sedangkan yang biasanya sekarang banyak hingga 113 kali. Trus tawasulnya juga harus ditambah yaitu syaikh Sholahuddin karena beliau sekarang Mursyid kita. Beliau menggantikan abanya syaikh Abdul Djalil Mustaqim yang telah wafat beberapa tahun lalu. Tepatnya tanggal 7 januari 2005. Oh ya ini juga saya bawakan photo copyan-nya hizib kahfi dan buku durotus salikin-nya. Tampak terlihat perubahan wajah cak i’im ketika mendengar bahwa syaikh Abdul Djalil telah wafat. Gurat-gurat kesedihan tampak semakin jelas, ia menyesal sekali kok sampai nggak tahu kalau Mursyidnya telah wafat, tampak sebutir air telah mengembang di pelupuk matanya. Sudahlah cak i’im meskipun syaikh Djalil telah tiada tapi beliau tetap mendo’akan kita kok dan terus membimbing ruhani kita semua. Kan sudah di jelaskan di alqur’an bahwa “Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup disisi Tuhannya dengan mendapat rezki”. Kalau bisa sih cak i’im segera aja sowan ke PETA sekaligus ziarah ke makam beliau. Sekalian aku informasikan kepada cak i’im kalu setiap bulan ada pengajian Al-Hikam di Masjid Al-Akbar Surabaya yang diasuh oleh KH. M. Luqman Hakim, MA dari Jakarta, setiap hari sabtu ba’da ashar, setiap minggu ke-4. Ok cak i’im karena sebentar lagi mau maghrib, aku mau sholat maghrib dulu trus langsung pulang sekalian, sekarang aku mau ke toilet dulu. Tampak terlihat ada satu kamar yang kosong, ketika supi’i mau melangkah sudah kedahuluan dari salah seorang wanita yang diceritakan oleh cak i’im. Tanpa basa-basi kemudian wanita itu berkata kepada supi’i sambil tersenyum genit “mas daripada nunggu lama mending kita masuk bersama-sama saja”. Salah tingkah supi’i mendapat tawaran seperti itu, ia Cuma berkata “ terima kasih mbak sampeyan dulu aja, aku ngantri aja gak apa-apa”, sambil tersenyum kecut dia menjawab, tetapi di hati supi’i tetap beristighfar mohon ampunan kepada Allah untuk dirinya, dan untuk mbaknya yang genit itu. Terlihat cak i’im tersenyum geli sambil membuka kedua tangannya mengisyaratkan bahwa ia tak bertanggung jawab atas apa yang barusan terjadi. Sedetik kemudian dia berkata kepada cak supi’i “baiklah sahabatku aku juga mau sholat maghrib juga, lain kali bertemu lagi, terima kasih infonya dan jangan lupa saling mendo’akan”. “sama-sama sahabatku. Semoga engkau tetap istiqomah untuk memberikan nasihat kepada mereka. Ok lain kali kita bertemu Insya Allah.

Selengkapnya.....

Cahaya Kekasih Allah

Sinar matahari mulai tampak remang, udara di pinggir stasiun kereta api tulungagung tidak begitu panas, malah tampak sejuk dan segar. Maklum seharian tadi supi’i bersama temannya ba’i begitu kepanasan digerbong kereta api ekonomi jurusan surabaya tulungagung. Ini kali kedua supi’i pergi ke tulungagung, tepatnya ke pondok peta (pesulukan thoriqot agung) yang terletak di tengah kota tulungagung. Pertama kali ia kesana adalah ketika mengikuti baiat thoriqot syadziliyah, sedangkan yang kali ini untuk menghadiri peringatan Haul wafatnya Hadratusy Syaikh Mustaqiem bin Husain dan Hadratusy Syaikh Abdul Jalil bin Mustaqiem.

Sore itu sepanjang perjalanan dari stasiun menuju pondok terlihat jalanan sudah mulai ramai, akses-akses jalan menuju pondok pun sudah ditutup, terlihat banyak sekali rombongan jamaah syadziliyin dan syadziliyat dari luar daerah yang menggunakan carteran bus-bus atau kendaran dengan kapasitas besar maupun mobil-mobil pribadi sudah berdatangan dan parkir ditempat-tempat yang sudah disediakan. Alun-alun kota tulungagung pun ramai sekali dengan orang-orang yang berjualan memanfaatkan momentum peringatan haul ini. Sepanjang jalan area pondokpun terlihat terop-terop, umbul-umbul, sound system maupun peralatan elektronik lainnya sudah terpasang sehingga menambah semaraknya suasana. Supi’i dan Ba’i yang baru pertama kali ini menghadiri haul begitu takjub dan kagum, karena menurut cerita setiap peringatan haul ini tak kurang hadir adalah sekitar 50.000 orang dari seluruh indonesia.

Tepat di jalan Wahid Hasyim tepatnya didepan pondok Peta Supi’i dan Ba’i diam sejenak memperhatikan pondok. “Tidak ada perubahan, tetap kokoh dan menjulang tinggi, Ya menjulang tinggi menuju Arasy Ilahi Robby yang menuntun orang-orang untuk berjalan menuju Allah SWT. Hanya tampak hiasan-hiasan dan podium sederhana yang digunakan untuk prosesi acara.

Singkat cerita acarapun mulai dilaksanakan. Supi’i dan Ba’i pun mengambil tempat di lantai bawah didepan makam. Entah mengapa Supi’i dan Ba’i kok bertempat di lantai bawah padahal tempat itu dikhususkan bagi para kyai dan para alim ulama, ketua kelompok maupun imam khususiah. Pada saat itu Supi’i dan Ba’i cuma mencari tempat kosong, anehnyapun petugas tidak melarang supi’i dan ba’i, mungkin wajah supi’i dan ba’i yang memakai baju “koko” putih mirip kyai kali (He...he...he.., Amin Ya robbal alamiin). Tampak kyai-kyai yang selama ini dikenal oleh supi’i dan ba’i terlihat di depan makam tersebut. Kyai Jamaluddin Ahmad Jombang, Kyai Luqman Hakim Jakarta, Kyai Wahid Zuhdi Purwodadi, Kyai Qosim sepanjang, Kyai Ghofur Blitar, dan lain-lain. Pra acara pertama yaitu pembacaan maulidur Rasul diiringi dengan musik hadra menambah suasana hikmat malam itu. Setelah itu tampil protokol membacakan acara malam itu. Pembukaan, pembacaan ayat suci Alqur’an, sambutan-sambutan, Tahlil, dan pembacaan manaqib syaikh Abil Hasan Asy Syadzili, Syaikh Mustaqiem, Syaikh Abdul Djalil, mauidhotul hasanah serta ditutup dengan do’a.

Pada acara tahlil inilah yang membuat supi’i tidak bisa melupakan sepanjang hidupnya. Khususnya pada saat dzikir kalimat thoyibah yang dipimpin oleh kyai ghofur. Sepanjang tahlil itu nggak tahu mengapa supi’i merasa untuk mati-matian menahan air matanya yang tiba-tiba serasa berkumpul semua di rongga kepalanya minta tumpah. Dag, dig, dug, dag, dig, dug, denyut jantung berdebar kencang, nafas saling mengejar, otot-otot syaraf mengejang membuat kaku seluruh badan. Diawal kalimat thoyibah yang diawali dengan bacaan secara pelan-pelan sebanyak tiga kali “Laa Ilaa ha Ilallaah..........., Laa Ilaa ha Ilallaah..........., Laa Ilaa ha Ilallaah..........., tak kuasa lagi supi’i menahan air matanya untuk tumpah yang sejak awal tahlil tadi ditahannya, nafasnya semakin kejar mengejar, sampai-sampai tak sanggup supi’i untuk sekedar berkata Laa Ila ha Ilallaah..........., bersama para jamaah lainnya yang semakin lama semakin cepat seperti irama suara sepatu tentara yang sedang berjalan. Hanya “Allah...., Alllah...., Allah....., Allah....., Allah......,Allah..... bunyi yang berdetak nyata didalam dirinya.

Tiba-tiba pandangannya menjadi lebih gelap, entahlah seolah-olah supi’i merasa mau pingsan, tetapi sesaat sebelum kesadarannya benar-benar lenyap. Tiba-tiba pandangannya seketika menjadi terang-benderang, terang sekali tetapi tidak silau, halus dan lembut, kemudian supi’i melihat cahaya indah sekali berbentuk spiral melingkar bertuliskan lafadz Allah muncul dari atas makam didalam pondok, terus naik ke atas, naik dan naik bergerak pelan seakan mengikuti irama tahlil yang merdu yang dilantunkan para jamaah syadziliyin dan syadziliyat. Seluruh bunyi dzikir yang didengar malam itu ia rasakan bagaikan konser ruhani, alunan bacaan tahlil, sholawat, takbir, tasbih, tahmid, istighfar bagaikan nada-nada merdu yang mengalun indah dalam orkestra jiwanya, berbunyi bersama dalam desah-desah nafas cinta kepada Tuhannya.

Tiba-tiba pandangannya hilang lagi, kembali normal lagi. Supi’i sadar air matanya menetes entah sudah berapa banyak, terlihat wajahnya sudah basah dengan air matanya, tetes demi tetes jatuh sampai terlihat pada baju kokonya juga basah bercampur dengan keringat tubuhnya. Suara Alllah...., Allah....., Allah....., Allah......, Allah....., supi’i rasakan masih tetap berbunyi dalam dirinya.

Tiba-tiba pandangannya berubah lagi, seiring suara tahlil Laa Ilaa ha Ilallaah..........Tak beberapa lama kemudian cahaya-cahaya itu ia lihat bagaikan kilatan-kilatan yang bergerak cepat, lap...lap...lap...lap....lap...lap...lap, seakan-akan cahaya itu terlihat seperti ketika mata supi’i berkedip-kedip semakin lama semakin cepat, cepat dan berbarengan dengan itu supi’i merasakan tubuhnya semakin lama semakin kejang dan kaku, sejurus kemudian tubuh supi’i berangsur-angsur lemah, lemas dan keadaanpun normal kembali seiring dengan berakhirnya tahlil yang dipimpin kyai ghofur.

Supi’i bingung terhadap apa yang di alami barusan tadi, karena bagi dia itu pengalaman pertama dan supi’i nggak tahu apa yang terjadi. Ia melihat orang-orang disekelilingnya, tampak normal, bahkan supi’i melirik ke temannya ba’i, juga kelihatan normal dan biasa-biasa saja seperti tidak terjadi apa-apa, supi’i hanya melihat di pelupuk mata ba’i juga terlihat basah. Apakah mungkin si ba’i juga mengalami hal yang sama dengannya, Wallahu ‘alam. Bagi Supi’i ia cuma bisa berkhusnudzon saja, siapa tahu mungkin itu cara Allah agar Supi’i menjadi lebih haqqul yaqin terhadap jalan yang ditempuhnya dengan bimbingan Hadratusy Syaikh Sholahuddin Abdul Jalil Mustaqiem. Supi’i beranggapan begitulah para kekasih Allah, kehadirannya memancarkan sisi ruhani yang luar biasa, dengan dekat kepada kekasih Allah kita akan teringat kepada Allah sehingga dengan sendirinya kita akan berdzikir kepada Allah.

Terima kasih Ya Allah...,
Malam ini Engkau takdirkan aku untuk berkumpul bersama para kyai,
Berkumpul dengan orang-orang yang selalu berdzikir dan selalu mengingat–Mu
serta berkumpul dengan kekasih-kekasih-Mu.

Ya Allah......
Tiada henti ku berlari dan berlari tuk mengejar Ridlo-Mu
Berilah aku kekuatan dan kemudahan agar aku bisa istiqomah untuk selalu mengingat-Mu, selalu ridlo atas ketetapan-Mu, selalu bersyukur atas nikmat-Mu. Serta selalu bersabar atas cobaan-Mu
Ya Allah.......
Berilah ampunan kepada kami, syadziliyin dan syadziliyat, muslimin dan muslimat, mukminin dan mukminat, baik yang masih hidup atau yang telah meninggal.
Ya Allah.....
Berilah kami terangnya hati
Tetapnya iman dan islam
Selamatkan kami dunia akhirat
Dan jadikanlah apa yang Engkau berikan kepada kami manfaat dunia akhirat.
Amin.....Amin.....Ya Robbal ‘alamiinn

Selengkapnya.....

Doa Sulthonul Auliya' Syaikh Abul Hasan Asy Syadzili 2

Imam Asy Syadzili ra pernah mengatakan : “Pada suatu malam aku merasa gelisah dan mencekam, lalu tiba-tiba aku memperoleh ilham agar aku mengucapkan do’a :

Dengan menyebut Nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

Wahai Allah, Engkau telah menganugerahi aku dengan iman, cinta, taat dan tauhid, (tapi) kemudian aku diliputi kelengahan, syahwat dan maksiat, dan aku telah dicampakkan oleh hawa nafsu itu ke dalam samudera kegelapan, padahal itu suatu tempat yang amat gelap gulita, sementara hamba-Mu ini berada dalam kesusahan, kesedihan dan kegelisahan, dan telah pula ditelan oleh Nunul Hawa (ikan Nun). Dan ia menyeru kepada-Mu dengan seruan Mahbubah (kekasih), Ma’shum (yang dijauhkan dari kesalahan) kepada nabi-Mu dan hamba-Mu : Yunus bin Matta yang tiada henti-hentinya mengucap : Tiada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau. Sesungguhnya aku dari golongan orang-orang yang zhalim. Maka kabulkanlah do’aku sebagaimana Engkau telah mengabulkan doa Yunus. Dan biarlah aku berada diatas bumi tandus gersang dengan penuh cinta, tempat tafrid wal wahdah (kesendirian dan kesatuan) Tumbuhkanlah bagiku pepohonan Luthfi (lemah lembut) dan al-Hannan (Allah yang Maha Kasih).

Sesungguhnya Engkaulah Allah Maha Raja, Maha memberi Anugerah, dan tiada bagi diriku melainkan Engkau sendiri yang tiada memiliki sekutu. Tiada Engkau selisih janji bagi orang-orang yang beriman kepada-Mu, sebagaimana telah Engkau katakan dalam firman-Mu : “Kemudian Kami mengabulkan doanya, dan kami selamatkan ia dari kesusahan. Demikianlah kami selamatkan orang-orang yang beriman.”

Wahai Alllah, Wahai yang Maha Indah, Wahai yang Maha Besar Lemah Lembut-Nya, aku memohon kelemah-lembutan-Mu sebagaimana kelemah-lembutan-Mu kepada Wali-Mu. Dan tolonglah aku agar di dalam menghadapi musuh-musuh-Mu mereka diliputi perasaan gentar.

Selengkapnya.....

Hadratusy Syaikh Abdul Djalil Mustaqim

Syaikh Djalil sangat sarat dengan kesejatian seorang Sufi. Beliau selalu akrab menyambut tamu-tamunya, tutur katanya halus dan santun, disertai senyum yang menyejukkan. Hampir setiap hari beliau menerima tamu, tak pernah tampak lelah pada raut mukanya. Setiap kali beliau memasuki ruangan yang terletak tak jauh dari rumahnya, puluhan tamu serentak berdiri menghormati sembari berebut ingin menyalaminya.

"Jadi Sufi itu harus banyak senyum. Dan jangan merasa terbebani persoalan-persoalan berat." Katanya.

Beliau lahir di Tulungagung 20 juni 1943. Putra dari Syaikh Mustaqim Husain yang juga seorang mursyid dan seorang pejuang kemerdekaan. Sejak masa kanak-kanak, beliau belajar agama pada Ayahandanya sendiri. Begitu lulus Sekolah Rakyat, beliau merobek ijazahnya, dan membuangnya ke sungai. Ayahnya kaget, lalu menegurnya. "Bah, ijazah kan benda mati yang tidak bakal dibawa ke liang kubur." Kata Syaikh Djalil kecil saat itu.

Sejak itu, beliau bertekad menuntut ilmu agama dari pesantren ke pesantren. Beliau pernah nyantri di pondok Pesantren Mojosari, Desa Loceret, Nganjuk-Jatim (1959-1970), kemudian di Ponpes Ploso, Desa Mojo, Kediri-Jatim. Tekadnya yang besar untuk menuntut ilmu, mendorongnya mengembara dari pesantren ke pesantren di seluruh Jawa, walaupun hanya mampir satu dua hari atau sampai dua minggu. Bisa dipahami jika beliau punya banyak guru. Ada kejadian lucu ketika beliau suatu saat berguru kepada seorang Kyai. kawan-kawannya sering memanggilnya 'Mbah' karena perilaku dan sikapnya sudah seperti orang tua.

Pernah suatu ketika ada seorang pelacur menemuinya, minta doa agar 'Bisnis' nya laris. Dengan baik Kyai Djalil menerima tamu istimewa itu seperti beliau menerima tamu-tamu yang lain. "Dia datang minta doa penglaris, ya.. saya beri," Katanya enteng. Tapi tentu saja doa sang Sufi bukan sembarang doa, apa yang terjadi setelah itu? Beberapa hari kemudian perempuan itu datang lagi sambil menangis, perempuan itu bertobat.

Kyai Djalil punya hobi bersedekah. "Ayah saya sangat memanjakan anak-anaknya (7 anak; 4 putra, 3 putri). Dulu beliau sangat sengsara mencari makan (profesi Mbah Mustaqim adalah tukang Sol sepatu). Karena itu beliau berpesan supaya anak-anaknya harus suka bersedekah, karena sedekah merupakan bagian salah satu cara untuk keluar dari kesengsaraan." Tuturnya. Maka, baginya bersedekah merupakan bagian dari Tirakat, sebuah upaya untuk memenangkan perang batin antara kehendak menyimpan benda (untuk diri sendiri) dan memberi benda yang kita miliki (untuk orang lain). Dan sebagai Sufi, beliau tidak terlalu mementingkan uzlah atau menyepi untuk merenung. Menurutnya, mengamalkan tarekat sebagai seorang sufi bukan hanya memegang tasbeh, berdzikir di masjid, atau melakukan zawiyah/uzlah tanpa mempedulikan kehidupan duniawi dan kepentingan masyarakat. Menurutnya, salat 5 waktu dengan disiplin, mencari nafkah dengan jujur, menuntut ilmu dengan bersungguh-sungguh, merupakan kehidupan bertarekat. "Tapi ingat, jangan sampai semua itu menyebabkan kita melupakan Allah SWT. Enggak ada larangan berbisnis bagi pengikut tarekat. Bisnis tidak menghalangi seseorang untuk masuk surga. Sebab ada berjuta jalan menuju Allah," Katanya.

Dan kini, Jumat 7 januari 2005, Kyai Djalil yang penyabar telah menghadap Allah SWT. Sugeng tindak, Kyai.

Pesan-pesan yang saya pernah dengar langsung dari beliau, antara lain:

  1. Belajar tarekat itu wajib bagi manusia yang imannya tipis, karena sepersekian detik pun manusia tidak pernah lepas dari pikirannya akan dunia (istri, anak, finance, pekerjaan, studi, dll).

  2. Saya ini selalu sabar menjalani cobaan, meskipun disakiti orang-orang dekat dan teman sejawat. Tapi hati ini selalu saya tata untuk tetap tenang tanpa emosi walau berhadapan dengan model/karakter orang yang berbeda-beda, sekalipun yang menemuiku seorang penjahat.

  3. Tarekat itu anti maki-maki, tapi menyelesaikan masalah dengan musyawaroh, karena wong tarekat itu ahli dzikir bukan dengan akal pikiran yang selalu ditumpangi hawa nafsu.

  4. Wong Syadziliyyah itu kendel, harus berjuang untuk rakyat. Musti mendahulukan kepentingan-kepentingan umum seperti membuat madrasah, membuat masjid, atau dengan rajin puasa.

  5. Kondisi dan situasi negara ini sulit di prediksi oleh akal rasional, karena negeri ini adalah negeri yang paling banyak Waliyullahnya.

  6. Saya ini banyak mengkader murid, tapi tetap saja tidak resah meskipun tidak ada yang jadi.

  7. Dan lain-lain.


From : kiriman Email Julia Rani Anggraeni (Syadziliyawati Kendari)
Selengkapnya.....

15 September 2008

SMS Itu .............

Malam itu sekitar jam 00:30 seperti biasa Supi’i lagi asyik untuk merenung mengamati malam dari gezebo depan rumahnya. Malam ini terlihat bulan purnama bersinar terang, tanpa terhalang mendung dan kabut hitam. Indah sekali. Supi’i membayangkan apakah wajah Rosul seindah itu Ya ?, buru-buru Supi’i mengusir bayangan itu, karena bagi Supi’i jelas rasul tidak dapat disamakan dengan bulan, rasul lebih dari bulan, rasul Muhammad bin Abdullah adalah rahmat bagi alam semesta, rahmatal lil ‘alamin.Rasul adalah purnama bagi alam semesta. Kalau cuma purnama maka sinarnya hanya cukup menyinari daerah malam, sedangkan bila siang maka sinarnya akan kalah sama matahari. Rasul membawa cahaya islam yang terang benderang baik malam maupun siang. Memang rasul diibaratkan seperti purnama ketika jaman jahiliyah. Ya sinar cahaya yang menerangi kegelapan, seperti purnama yang menerangi kegelapan malam. Kebiasaan bertafakur itu selalu dilakukan Supi’i hingga malam memasuki sepertiga akhir dimana Supi’i dengan khusuknya untuk bermunajad kepada Allah.Tiba-tiba Supi’i dikagetkan oleh bunyi dari Hp-nya, SMS rupanya. “tumben sekali jam segini ada sms masuk”, guman Supi’i. Terlihat dari layar HP yang sudah mulai usang terlihat nama Cak a’an sahabat Supi’i. Segera dibaca sms tersebut :
“Supi’i, tolong doain aku dengan bacaan fatehah dikhususkan kepadaku, please, thanks b4”.
Supi’i segera membalas sms itu dengan kalimat singkat :“Ok, Insya Allah”.
Bagi Supi’i orang yang meminta tolong kepadanya maka harus ia tolong sebisa mungkin. Tetapi dalam hati Supi’i jadi bertanya-tanya ada apa gerangan, kok tumben cak a’an ini berlaku demikian. Padahal menurut sepengetahuan supi’i, sahabatnya ini adalah termasuk orang yang baik, yang selalu mentaati perintah Allah dan rasulnya serta menjauhi segala larangannya. “Ah masa bodoh lah, yang penting didoain aja sesuai dengan permintaannya”. Lirih Supi’i berkata.

Selang seminggu setelah sms itu, Supi’i secara tidak sengaja bertemu dengan cak a’an. Kesempatan inipun tidak disia-siakan oleh Supi’i untuk segera bertanya kepada cak a’an apa gerangan yang terjadi ?.
“Begini iii, aku merasa minggu-minggu terakhir ini aku gak tenang sekali. Biasanya telah kubuat daftar nilai untuk segala amal ibadahku, telah kubuat kolom-kolomnya, biasanya setiap hari aku sholat sunnah sekian kali, sholat wajib berjamah sekian kali, ikut di majelis taklim pulangnya hati tenang. Tapi sekarang iii, dari tabelku, grafiknya terlihat menurun iii, setiap habis sholat sekarang aku tidak merasa tenang. Aku takut pahalaku berkurang iii” kata-kata itu meluncur dari bibir cak a’an seperti anak yang wadul kepada orang tuanya.

“Tenanglah sahabatku, tenangkanlah dirimu, kamu sekarang harus instropeksi diri dulu, pasti ada sesuatu yang salah dari kamu. Kalau aku lihat ada yang salah dari niat kamu, kamu masih belum Lillahi ta’ala, kamu masih belum ikhlas, tujuanmu untuk beribadah entah itu sholat sunnah, jamaah sholat wajib ataupun pergi ke majelis taklim masih mengejar pahala, padahal Allah tidak butuh pahalamu, karena pahala itu haknya Allah, Allah hanya butuh keikhlasanmu, Engkau mesti Ikhlas dalam beramal, engkau mesti ikhlas dalam beribadah, agar Allah menerimaNya. Ikhlas adalah sayap burung amal ibadah. Tanpa sayap, bagaimana engkau dapat terbang ketempat kebahagian ?. bukannya hal ini sudah diterangkan oleh Ibnu At-tho’illah asy-syakandary dalam kitab hikamnya pada poin pertama :
“setengah dari tanda bahwa seseorang itu bersandar dari pada kekuatan amal usahanya, yaitu berkurangnya pengharapan terhadap rahmat karunia Allah ketika terjadi padanya suatu kesalahan/dosa.

Nah !, sudah terlihat jelas kan bahwa amal ibadah kita terlaksana hanya atas berkat rahmat Allah SWT. “Laa haula walaa quuwata ila billah”, tiada daya dan upaya kecuali hanya kepunyaan Allah. Termasuk ketika kita tidak dapat menghindar dari dosa, maka pasrahkanlah hatimu, segeralah istighfar agar maksiat yang telah engkau lakukan diampuni oleh Allah SWT. Alangkah sombongnya kita kalau kita mengandalkan amal kita, sama seperti iblis yang mengandalkan kehormatan dirinya ketika disuruh oleh Allah bersujud kepada nabi Adam as sebagai bentuk penghormatan.

Dzohirnya syariat menyuruh kita untuk berusaha beramal, sedangkan hakikat syariat melarang kita untuk menyandarkan diri pada amal usaha itu, supaya tetap bersandar pada Karunia Rahmad Allah.

Laa Haula Walaa quwwata illa billahi, tidak ada daya untuk mengelakkan diri dari bahaya kesalahan, dan tidak ada kekuatan untuk berbuat amal kebaikan kecuali dengan bantuan pertolongan Allah dan karunia rahmatNya semata-mata. Sedang bersandar kepada amal usaha itu berarti lupa pada karunia rahmad Allah yang memberi taufiq hidayah kepadanya. Yang akhirnya pasti ia ujub, sombong, merasa sempurna diri, sebagaimana yang telah terjadi pada iblis ketika diperintah bersujud kepada nabi Adam as. Termasuk dirimu cak, kamu bisa sholat sunnah, shalat berjamaah, aktif di majelis taklim pada hakikatnya yang menggerakkan adalah Allah SWT. Pahamilah seperti itu cak. Mestinya kita bisa merenung kenapa ketika adzan di kumandangkan dan kita disunnahkan untuk menjawab. Kenapa semua jawaban sama kecuali pada kalimat “chayya ‘alash sholaah” dan “chayya ‘alal falaach” kita menjawabnya “Laa Haula Walaa quwwata illa billahi”

Cobalah cak niatnya ditata lagi, lebih Lillahi ta’ala gitu lho. Dan teruskan ibadahmu seperti dulu cak, itu sudah bagus tinggal niatmu aja dan keikhlasanmu. Semoga kamu bisa istiqomah cak dan jangan lupa do’akan dan mohonkan ampunan kepada Allah SWT bagi seluruh muslimin dan muslimat, mukminin dan mukminat khususnya di indonesia.

Sambil memeluk supi’i cak a’an berkata lirih “terima kasih sahabatku”. Terlihat mata cak a’an berkaca-kaca penuh haru. Dalam hatinya dia bertekad untuk meluruskan lagi niatnya.

Selengkapnya.....

Resep Sulthonul Auliya' Syaikh Abul Hasan Asy Syadzili dalam menghilangkan was-was

Was-was ketika takbirotul ihrom merupakan permainan syaitan. Was-was itu menunjukkan adanya gangguan pada akal atau bisa juga karena bodoh dalam masalah agama. Asy syaikh Abul Hasan Asy Syadzili mengajarkan do’a kepada murid-muridnya untuk menolak was-was dan gangguan-gangguan pikiran yang buruk. Beliau mengatakan “ Barang siapa merasakan was-was, hendaklah meletakkan tangan kanannya pada dada dan mengucapkan doa dibawah ini :



“Subhaanal malikil qudduusil khollaaqil fa’aali “

Sebanyak 7 kali, kemudian mengucapkan do’a :



16. Jika Dia menghendaki, niscaya Dia memusnahkan kamu dan mendatangkan makhluk yang baru (untuk menggantikan kamu).
17. Dan yang demikian itu sekali-kali tidak sulit bagi Allah.
(QS Faathir 16 – 17)


From : "Fiqih Alternatif, Kumpulan Qoul Qoul Nyentrik, M. Ridlwan Qoyyum Said, Mitra Gayatri Lirboyo Kediri, 2006

Selengkapnya.....

Doa Sulthonul Auliya' Syaikh Abul Hasan Asy Syadzili 1

Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

Wahai Allah..
Wahai yang memberi Anugerah,
Wahai yang Maha banyak memberikan Karunia,
Wahai yang memiliki Karunia.
Siapa kiranya yang memperhatikan seorang hamba yang berkubang maksiat selain Engkau dalam keadaan dirinya benar-benar lemah untuk menjangkau Ridlo-Mu, dimana syahwatnya telah benar-benar merintangi dari berbakti kepada-Mu, dimana ia tiada memiliki seutas talipun yang dapat dijadikan pegangan selain meng-Esakan-Mu”

Bagaimana mungkin orang yang telah berpaling dari-Mu dapat memberanikan diri untuk memohon kepadaMu?.
Tapi bagaimana pula tidak memohon bagi orang yang benar-benar butuh kepadaMu?.
Tentu karena hanya anugerah-Mu juga jika saat sekarang ini tergerak hatiku untuk memohon kepada-Mu”

Dan Engkau telah memberikan kecukupan dengan tumbuhnya harapan kepadaMu,
Maka janganlah kiranya Engkau menolak doaku tanpa limpahan kasih sayangMu, wahai yang Maha memberi banyak anugerah.

Dan Engkau, Wahai Allah, yang telah menjadikan bagi asma’-Mu Kemuliaan dan Kewibawaan , maka barang siapa yang menyeru dengan asma’-Mu tiadalah ia menyekutukan sesuatu dengan-Mu, niscaya Engkau berkenan menjawabnya.
Wahai yang Maha Kuat yang tidak dapat dikalahkan oleh sesuatu bahkan menang atas segala sesuatu.
Wahai yang Maha Perkasa yang dapat memaksakan kehendak-Nya atas semua mahluk.
Wahai yang memiliki kebesaran, yang patut dipuji karena Keagunagn sifat-sifat-Nya.
Wahai yang menjadikan segala sesuatu.
Wahai yang Membuat rupa dan bentuk bagi segala sesuatu,
Peliharalah aku dari kegelisahan hati dan kegundahannya, dari kelemahan dan kemalasan, dari sifat penakut dan kikir, dari kebimbangan dan persangkaan buruk, dari beban beratnya hutang dan tanggung jawabnya, serta dari serangan orang-orang yang memusuhi..

Sungguh bagiMu asma’ yang sangat Indah, sementara mahluk yang ada dilangit dan di bumi benar-benar bertasbih kepada-Mu, dan Engkaulah yang Maha Perkasa dan Maha Bijaksana.

Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu, segala kebaikan dunia dan agama. Segala kebaikan dunia adalah keamanan, kesantunan, kelemah-lembutan, sehat dan afiat. Dan segala kebaikan agama adalah ketaatan kepada-Mu dan tawakkal atas-Mu, ridho dengan qodho’-Mu dan bersyukur atas semua karunia-Mu serta berbagai nikmat-Mu. Sesungguhnya Engkau berkuasa atas segala sesuatu,
Selengkapnya.....

Template by - Abdul Munir | Daya Earth Blogger Template